Sejak beberapa minggu terakhir, sebenarnya Gilang sudah sering memikirkan Cici. Tapi setiap kali niat itu muncul, selalu saja ada keraguan yang membuatnya menahan diri. Cici terlalu… berbeda. Gadis itu ceria. Mulutnya tidak pernah bisa diam. Di kafe tempat mereka bekerja, hampir semua orang akrab dengannya. Para karyawan. Para pelanggan tetap. Bahkan bapak-bapak yang biasanya hanya datang untuk minum kopi hitam pun bisa tertawa kalau Cici sudah mulai berceloteh. Gilang pernah beberapa kali memperhatikan dari kejauhan. Bagaimana Cici bisa dengan mudah bercanda dengan semua orang. Bagaimana dia tertawa lepas sampai matanya menyipit. Dan bagaimana dia selalu membuat suasana kafe terasa lebih hidup. Justru itu yang membuat Gilang ragu. Apa Cici benar-benar punya perasaan yang sama?
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


