“Aku di Bali. Nengok proyek. Selasa baru pulang.” “Kita ketemu selasa, gimana?” “Oke. Aku hubungi lagi nanti.” “Sip! Thanks, Mas!” ~~~~~~~~~~~~~~~~ “Makasih,” ucap Cinta sambil memeluk Dinda erat. Lalu ia beralih memeluk Ira, wanita paruh baya yang sudah Cinta anggap seperti ibunya sendiri. Lilin berbentuk angka 26 baru saja padam, meninggalkan asap tipis yang melayang di udara. Mereka hanya bertiga di ruangan kecil itu, tetapi tawa dan rasa hangatnya cukup untuk membuat hati Cinta terasa penuh. Sejak tersisih dari keluarga, Cinta selalu merayakan ulang tahunnya hanya bersama Dinda dan Ira. Hanya perayaan sederhana di rumah Ira, dengan sebuah cupcake kecil dan satu lilin di atasnya. Kendati begitu, bagi Cinta semua itu sangatlah berarti. “Padahal, aku pengen makan masakan Ibu, loh,

