Pagi berikutnya, Nina terbangun dengan kepala berat. Pesan-pesan semalam masih jelas di ingatannya. Ia tidak langsung bangkit dari ranjang, menatap langit-langit kamar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengambil ponselnya. Tidak ada pesan baru. Nomor tak dikenal itu seolah menghilang begitu saja. Namun satu hal berubah: Nina tidak lagi bisa bersikap biasa. Di kantor, suasana berjalan seperti biasa, tapi Nina merasa setiap hal kecil kini terasa berbeda. Cara Tomi menyapanya, cara ia berdiri sedikit terlalu dekat saat menjelaskan agenda, bahkan caranya menatap layar laptop Nina—semuanya kini terasa lebih mencolok. “Pagi, Bu Nina,” sapa Tomi saat Nina masuk ruangannya. “Agenda hari ini sudah saya susun. Tidak terlalu padat.” “Pagi,” jawab Nina singkat. Ia duduk dan membuka ta

