Arya tiba kurang dari dua puluh menit kemudian. Lampu mobilnya menembus hujan yang belum juga reda. Begitu melihat Nina berdiri di pinggir jalan dengan wajah tegang namun utuh, Arya langsung turun dan menghampirinya. “Kamu nggak kenapa-kenapa?” tanyanya cepat. “Aku aman,” jawab Nina. “Tomi kabur.” Arya menoleh ke arah jalan gelap yang baru saja dilalui Tomi. “Sendirian?” “Iya. Tapi dia bukan cuma satu-satunya,” sahut Nina sambil menunjukkan ponselnya. “Ada pihak lain.” Dua manajer divisi yang sejak tadi menunggu di bawah kanopi kecil terlihat bingung. Nina mendekat pada mereka. “Kita lanjut ke Bandung pakai mobil Arya,” kata Nina tegas. “Mobil kantor ditinggal. Aku akan jelaskan di perjalanan.” Tanpa banyak tanya, mereka mengangguk. Situasi sudah jelas tidak normal. Di dalam mobil

