Keesokan harinya, Nina kembali ke Jakarta dengan kepala tegak. Ia tidak lagi datang sebagai orang yang diteror diam-diam, tapi sebagai atasan yang tahu apa yang sedang ia hadapi. Begitu tiba di kantor, suasana langsung terasa berbeda. Beberapa karyawan meliriknya dengan ekspresi penasaran, sebagian lain pura-pura sibuk. Isu penonaktifan Tomi sudah menyebar, meski belum ada pernyataan resmi. Nina langsung masuk ke ruangannya dan mengunci pintu. Ia membuka laptop dan mengecek email. Legal sudah mengirim update: Tomi resmi ditahan sementara untuk pemeriksaan lanjutan, dan pengacaranya meminta penangguhan. Permintaan itu ditolak karena adanya bukti ancaman dan pengawasan ilegal. Nina membaca semuanya dengan tenang. Ada rasa lega, tapi ia tahu satu hal: pesan terakhir dari nomor tak dikenal b

