Tomi menarik napas dalam-dalam, lalu segera merapikan ekspresinya. Ia mengendurkan kepalan tangannya dan kembali berdiri tegak di depan meja Nina, sikapnya kembali profesional seperti biasa. “Berkas itu urgent, Bu,” ucap Tomi, menggunakan panggilan formal yang selalu ia pakai di kantor. “Kalau sudah ditandatangani, mohon dikembalikan sebelum jam dua. Saya harus langsung mengantarkannya ke bagian legal.” “Iya, Tom,” jawab Nina sambil tetap fokus membaca isi map. “Nanti aku serahkan.” Tomi mengangguk singkat. Ia sempat melirik ponsel Nina yang sudah kembali diletakkan di meja, lalu berbalik dan melangkah menuju mejanya sendiri yang berada tidak jauh dari ruang kerja Nina. Namun langkahnya terhenti sejenak. Ia menoleh kembali. “Oh iya, Bu Nina,” katanya lagi. “Agenda rapat sore ini tetap

