Di ujung gang kecil yang hanya cukup untuk dilalui dua motor berpapasan, Dokter Jasmine berdiri sambil merapikan tas selempangnya. Mobilnya terparkir beberapa meter di belakang. Tak mungkin masuk lebih jauh. Lampu-lampu rumah warga yang mulai menyala memberi warna kuning temaram pada jalan sempit itu. Sementara angin pagi membawa aroma masakan dari dapur-dapur sekitar. Dokter Jasmine mengeluarkan ponselnya dan segera menekan nomor Aurora yang sangat ia sayangi seperti anak sendiri itu. Begitu sambungan tersambung, suaranya terdengar lembut namun sedikit terburu-buru. “Aurora, ini saya di depan gang kecilnya seperti biasa,” ucapnya lembut sambil menatap deretan rumah yang tampak mirip satu sama lain. “Kamu bisa beri tahu saya, rumah kamu yang mana dari sini?” Ia melangkah pelan ke dala

