Bima langsung berjongkok di sampingnya. Matanya membesar melihat darah di telapak tangan kanan Aurora. “Ya Tuhan… Lu berdarah! Siapa yang lakukan ini?!” Ia menahan bahu Aurora agar tetap tegak. Tapi Aurora hampir pingsan. “Dua… Dua orang… Pakai topeng… Tiba-tiba… Menusuk…” Suaranya bergetar, hampir hilang. “Oke, denger gue. Lu aman sekarang. Gue di sini.” Nada suaranya cepat, panik, tapi tetap berusaha tenang. Selama ini sebenarnya Bima tidak menyukainya. Terlebih ketika dia mengetahui jika Aurora mengidap lucid dream yang membuat dirinya bertingkah aneh karena tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana yang hanya sekedar mimpi. Tetapi ketika melihat Aurora yang sedang lemah seperti sekarang ia pun merasa tidak tega dan kasihan dengannya. Bima tidak bisa menutup mata begitu saja

