“Jangan sembarangan bicara ya.” “Mereka selalu ganggu dia. Selalu. Tapi menusuk tangan? Itu sudah gila.” “Kalo ga ada bukti lebih baik lu ga usah asal bicara. Lagipula gue ga yakin kalo pelakunya itu Callista dan Aurum. Mereka berdua ga segila itu.” Gresa menatap Bima lama. Campuran terima kasih dan juga rasa kesal karena Bima masih saja membela Callista. “Terserah lu, kak. Tapi kalo semua ini benar karena ulah mereka, gue ga akan tinggal diam.” Mereka duduk berdampingan. Hening beberapa saat. Bima bergumam di dalam hatinya sambil memikirkan sesuatu. “Apa iya semua ini ulah Callista dan Aurum? Sampai iya, udah keterlaluan mereka. Gue harus cari tau ini semua. Supaya ga ada salah paham juga.” Pintu IGD terbuka. Dokter keluar, melepas sarung tangannya. “Keluarganya atau kerabatnya?”

