Setibanya di kampus, Aurora baru saja turun dari mobil ketika suara langkah cepat terdengar dari belakangnya. “Aurora!” Gresa hampir berlari menghampirinya, napasnya sedikit terengah. “Kok lu… Dianter Dokter Jasmine? Kalian kan kemarin sempat ribut. Lu bahkan nggak mau ngomong sama dia.” Aurora terdiam sejenak. Ada perasaan malu, takut, dan lega bercampur jadi satu. Ia menatap Gresa, lalu menghela napas panjang. “Gue… Semalam ke rumah Mamah,” jawab Aurora pelan. “Gue nggak bilang ke Nenek. Gue cuma… Butuh tempat. Butuh seseorang.” Gresa membelalakkan mata. “Lu ke rumahnya? Terus?” “Dia nggak marah. Dia cuma… Nerima gue. Dia ngajarin gue buat ngomong jujur sama Nenek, biar nggak terus-terusan sembunyi.” Aurora menunduk, menggenggam tali tasnya erat. “Pagi ini dia nganterin gu

