“Iya. Dan lihat caranya bicara. Akrab sekali… Sampai-sampai kayak bukan hubungan Dokter sama pasien lagi.” “Gue kira dia udah berhenti kuliah total. Tapi kalau Dokter itu bantu dia lagi… Bisa-bisa dia dapet beasiswanya balik.” Aurum tersenyum miring. “Dan kalau itu terjadi, semua perjuangan kita waktu itu bakal sia-sia.” Mobil-mobil lalu lalang di sekitar mereka. Namun kedua perempuan itu seakan tak peduli. Pandangan mereka tak lepas dari kafe mungil itu. Dari balik kaca, terlihat Dokter Jasmine menyodorkan secangkir kopi ke arah Aurora. Lalu keduanya tertawa kecil. Sebuah pemandangan sederhana namun cukup untuk membakar rasa iri yang mengendap di d**a Callista. Callista menyilangkan tangan. Suaranya dingin. “Dia pikir bisa balik ke kampus begitu saja, cuma karena punya Dokter yang

