bc

MANTAN KESAYANGAN Tuan Xu

book_age18+
341
IKUTI
4.1K
BACA
revenge
love-triangle
HE
escape while being pregnant
fated
opposites attract
second chance
pregnant
arrogant
mafia
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
bold
campus
city
office/work place
childhood crush
disappearance
affair
like
intro-logo
Uraian

“Pergi bersamaku, atau Severian tidak akan mendapatkan donor ginjal. Kekasihmu itu akan … mati!” Demi menyelamatkan nyawa kekasihku, terpaksa kuterima tawaran lelaki lain untuk pergi bersamanya. Sayang, pria bernama Severian Xu itu kini memandangku hanya sebagai sampah karena sudah mengkhianati cintanya. Bukan hanya aku yang dia anggap sampah, tetapi juga pada anak lelakinya yang tidak pernah dia ketahui bahwa itu adalah darah dagingnya sendiri. Dan kini, di saat aku butuh biaya luar biasa besar untuk kesembuhan anak kami, justru siksaan dan hinaan yang kudapat darinya. Hai, Guys! Ketemu lagi dengan Author. Tahun baru, novel baru. Yuk, gabung di sini dan ikuti keseruan kisah Severian Xu bersama Ivy Rou.

chap-preview
Pratinjau gratis
Ch.01 Prologue Kepiluan
“Severian sudah koma, gagal ginjalnya sudah masuk tahap akhir. Kita hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban yang membuatnya bertahan.” Aku masih bisa mengingat jelas kalimat itu diucap kepadaku oleh wanita yang melahirkan kekasihku, Severian Xu. Duniaku runtuh begitu saja. Bayangan pernikahan yang akan berlangsung tahun depan mendadak hancur berantakan berganti dengan bayangan pemakaman. Hari-hari serasa gelap gulita. Semua terjadi begitu cepat. Satu bulan lalu semua masih terlihat baik-baik saja, mendadak …. Penyakit radang ginjal akut, berkembang terlalu cepat hingga gagal membuat kami bersiap. Harus segera ada donor dalam hitungan hari agar ia bisa selamat. *** Lalu, seperti keajaiban dan kutukan yang datang bersamaan, dua hari kemudian seorang lelaki asing mendatangiku. Wajahnya bengis dan matanya tajam. “Rumah sakit sudah menemukan donor ginjal. Tapi, kamu harus pergi selamanya dari Severian. Kamu harus membuatnya berpikir kamu berkhianat.” “Kalau kamu tidak mau, maka donor ginjal itu batal dan dia … kekasihmu itu … mati!” Katakan, pilihan apa yang kupunya? Tidak ada. Aku tidak tahu siapa pria itu. Yang aku tahu sepertinya dia suruhan orang. Karena setelah aku bersedia pergi dengannya demi nyawa Severian, dia menelepon seseorang dan mengatakan semua berjalan lancar. Namaku Ivy Ruo. Aku bukan siapa-siapa. Hanya gadis bermodal beasiswa yang dicintai Severian Xu sejak kuliah hingga kini empat tahun hubungan kami berjalan. Tepat setelah kami lulus kuliah, Severian melamarku. Keluarganya tidak menolak meski aku bukan dari kalangan konglomerat. Lalu, kenapa sekarang ada yang memintaku pergi? Apa keluarganya selama ini hanya pura-pura menerimaku? Pria itu tertawa sinis. “Kamu pikir wanita miskin sepertimu bisa bersama seseorang dari keluarga Xu? Kamu pasti bermimpi! Kehadiranmu hanya melempar kotoran pada nama baik keluarga Xu!” Ya, sepertinya selama ini keluarga Severian hanya berpura-pura baik padaku. Ternyata … oh, ternyata mereka membenciku. Sudah jelas keluarga Xu yang memintaku pergi, bukan? Mendadak, pria asing itu menarik tubuhku dan berdesis, “Bermesraan denganku!” Aku tak ada pilihan saat dia melumat habis bibir ini dan mengambil berbagai gambar kemesraan kami. Sangat terpaksa, aku mengikuti semua kegilaan ini, yang penting Severian bisa selamat. Setelahnya, dengan hanya membawa dua koper, aku ikut pergi bersamanya. Dia akan mengantarku ke bandara, di mana aku sudah disiapkan tiket serta uang cukup banyak untuk hidup di negara lain. Bahkan, aku sudah disiapkan kartu identitas palsu untuk memulai hidup di luar negeri. Siapa pun yang menginginkanku pergi benar-benar sudah mempersiapkan segalanya agar aku menghilang dari hidup Severian. Maka, pergilah aku dari apartemen tempatku dan Severian menghabiskan sekian waktu bersama selama empat tahun. Air mata menetes pelan di pipi saat menutup pintu, sekaligus menutup hatiku untuk pria itu, kekasihku. ‘Semoga kamu bisa hidup dengan baik setelah ini. Aku akan selalu mencitaimu. Maafkan aku atas semuanya. Tapi, semua ini demi nyawamu ….’ *** Keheningan menyelimuti saat perjalanan menuju bandara. Hujan deras mengguyur kota New York. Jarak pandang sangat terbatas. Petir bertalu kencang di udara. Aku ingat bagaimana Severian biasa memelukku saat hujan deras. Dia tahu aku selalu takut dengan bunyi halilintar yang terlalu keras. Namun, mendadak bukan bunyi petir yang membuatku menjerit ketakutan, tetapi …. “FUUUUCK!” Pria asing yang membawaku berteriak kencang saat dua mobil Jeep berwarna hitam mendadak memepet kami saat berada di pinggir jembatan. Tidak hanya memepet, tetapi mereka juga mengeluarkan senjata laras panjag dan membombardir kami dengan rentetan peluru. Ada yang mencoba membunuh kami! Barulah aku tahu kalau siapa pun itu yang menginginkanku hilang dari Severian, ternyata juga menginginkan aku mati! “Tolooong! Toloooong!” teriakku, menjerit setengah mati saat pria asing di sebelahku tertembak tepat di tengah kening. Kepalanya meledak mengerikan. Darah bermuncratan di kabin mobil bersama jaringan otak yang terkena peluru, menempel di kaca. Mobil langsung kehilangan kendali karena sopirnya mati begitu saja ditembak. Kendaraan sedan ini berputar berkali-kali menabrak pagar jembatan dan akhirnya …. BYUUUURRRR! Aku terhempas masuk ke dalam sungai! Air dingin menyerbu masuk dari kaca yang sudah banyak pecah akibat diterjang peluru. Tanganku berusaha setengah mati melepas sabuk pengaman. Ketika akhirnya terbebas, aku keluar dari mobil melalui kaca depan yang sudah pecah tidak karuan. Lengan serta kaki tergores kaca, tetapi aku tidak bisa lagi merasakan perih. Yang aku pikir hanya aku harus bisa menyelamatkan diri. Desing peluru tidak terdengar, tetapi di bawah air aku bisa melihat rentetan peluru menyerbu ke dalam air. Gila! Mereka benar-benar ingin membunuhku. Dengan susah payah aku terus berenang menjauh, sesekali mengambil udara ke permukaan, dan kembali ke bawah air agar tidak terkena peluru. Aku bersumpah dalam hati, tidak akan lagi mau berurusan dengan Severian maupun keluarga Xu! *** Tujuh tahun kemudian. “Mommy pergi kerja dulu. Kamu di rumah dengan Granny,” ucapku sambil membelai rambut seorang bocah lelaki berusia enam tahun. Namanya Lucian Ruo, putra pertamaku. Wajahnya persis seperti ibunya. Dia menatap lirih, “Ini sudah malam, kenapa Mommy sekarang terus bekerja lagi meski sudah malam?” “Karena kita butuh uang, Nak.” “Karena penyakitku, ya? Aku kemarin mendengar Mommy menangis saat bicara dengan Granny, bilang belum ada uang untuk membayar biaya rumah sakitku yang terakhir.” DEG! Aku saling menatap dengan ibuku yang sudah renta. Kami sama sekali tidak tahu kalau ternyata Lucian mendengarnya. Dengan cepat aku menggeleng dan menahan rasa sakit teramat nyeri dalam hati. Senyum kupulas selebar mungkin di bibir. “Kamu salah dengar, Nak. Mommy tidak pernah bicara begitu dengan Granny. Yang benar adalah, Mommy akan mencari uang banyak sehingga bisa membiayai rumah sakitmu.” Ibuku mengangguk, berusaha membuat suasana tidak semenyedihkan yang dipikir Lucian. “Ya, itu benar. Mommy-mu punya uang untuk membayar semua pengobatanmu. Kamu salah dengar.” Lucian memandangku dan juga neneknya. Ia tersenyum kecil, tetapi kesedihan masih terlihat di wajah. “Mommy pulang jam berapa?” “Mommy akan pulang tengah malam. Kamu tidur ditemani Granny, ya? Besok pagi saat kamu bangun, Mommy sudah akan menyiapkan sarapan roti madu kesukaanmu.” Lucian mengangguk, lalu memeluk kakiku. “I love you, Mommy. Cepatlah kembali, ya?” Menahan tangis, aku usap punggungnya. Kutundukkan punggung, mencium pucuk kepala Lucian sambil menghela berat. Kalian pasti sudah tahu dia anak siapa, bukan? Satu bulan setelah peristiwa penembakkan di tepi sungai, aku baru tahu kalau ternyata ada benih Severian yang berkembang di dalam rahimku. Dan … ya, seperti ayahnya yang memiliki kelainan ginjal waktu itu, ternyata Lucian juga memilikinya. Aku harus membiayai rawat inap berulang, obat imunosepresan yang sangat mahal, pemeriksaan rutin intensif, hingga menghadapi kemungkinan terburuk … yaitu resiko berkembang ke gagal ginjal permanen. Asuransi sudah berkali-kali terkena limit. Banyak obat yang tidak ditanggung oleh asuransi kantor maupun umum. Tabungan sudah habis, mobil pun sudah kujual. Kondisi yang mengharuskan berjuang setelah lima tahun pertama kehidupan kami baik-baik saja. Sekarang, ketika pagi aku bekerja di sebuah perusahaan teknologi. Akan tetapi, sesudahnya aku mencari sambilan pekerjaan dengan menjadi resepsionis shift malam di sebuah night club elit. Penghasilanku di klub malam elit itu setiap bulannya bisa mencapai $10.000 dan langsung habis untuk pengobatan Lucian. Sementara gajiku di perusahaan teknologi aku buat untuk biaya hidup kami bertiga sehari-hari. *** The Velum Private Night Club. Aku sedang bekerja dengan penuh senyum saat para tamu berdatangan. Seperti namanya yang memiliki kata “private”, klub malam ini tertutup untuk pihak umum. Hanya konglomerat, pejabat, artis, dan siapa pun itu yang dilabeli kaum milyader uang tak berbatas yang bisa menjadi anggota. Tugasku yang paling utama adalah melakukan verifikasi terhadap para tamu undangan. Jangan sampai ada orang yang seharusnya bukan anggota justru berhasil masuk. Malam ini cukup ramai sampai ada antrian pendek di depan meja resepsionis yang aku kuasai. Setelah tamu yang merupakan seorang senator ternama masuk, ada seorang lelaki berdiri … diam, hanya sedang bernapas memburu. Aku masih menunduk, menyelesaikan administrasi terakhir sebelum lanjut mengecek verifikasi tamu berikutnya. “Sebentar, Tuan. Beberapa detik lagi saya selesai.” Lalu, terdengarlah suara itu … terlalu familiar, terlalu menyakitkan. “Jadi, sekarang kamu bekerja di sini? Berapa tarifmu per malam? Berkhianat dariku dan sekarang kamu justru jadi p*****r, hah?” Aku cepat mendongak, darahku membeku! Severian Xu ….

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook