Dunia seolah berhenti berputar. Oksigen di sekitar meja resepsionis The Velum mendadak menipis, membuat paru-paruku terasa terhimpit beban sebesar gunung.
Suara musik dentum bas yang samar dari arah hall utama mendadak lenyap, digantikan oleh suara degup jantungku sendiri yang bertalu-talu.
Aku mendongak perlahan. Gerakanku kaku, seolah sendi-sendiku telah membeku menjadi es. Dan di sana, tepat di hadapanku, berdiri pria yang selama tujuh tahun ini menghantui setiap mimpi buruk dan juga … kerinduanku.
Severian Xu.
Dia tampak jauh lebih matang, lebih berkuasa, dan berkali-kali lipat lebih dingin. Setelan jas custom made yang melekat di tubuh tegapnya meneriakkan kekayaan yang tak terukur.
Namun, mata yang dulu selalu menatapku dengan kehangatan kini hanya berisi kebencian murni yang menyambar layaknya kilat.
“Jadi, sekarang kamu bekerja di sini?” Suaranya berat, serak, tajam menusuk. “Berapa tarifmu per malam? Berkhianat dariku dan sekarang kamu justru jadi p*****r, hah?”
Aku terengah. Lidahku kelu, tertanam di dasar mulut. Kata-katanya lebih menyakitkan daripada peluru yang menghujam di tepi sungai tujuh tahun lalu.
Aku ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa aku bekerja di sini untuk menyambung nyawa darah dagingnya, tetapi kenyataan bahwa dia menganggapku serendah itu membuat seluruh harga diriku runtuh.
Dan membuatku semakin ingin menutup mulut rapat-rapat mengenai keberadaan Lucian. Dia tidak akan mungkin percaya kalau aku hamil anaknya, lihat bagaimana dia memandangku rendah saat ini.
Berusaha profesional, aku mengulas senyum di bibir merah terang. Menguatkan diri bahwa dia hanyalah tamu di sini.
“Tuan Xu ... saya harus verifikasi dulu. Mohon ditung—"
“Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu!” potongnya membentak. Senyum sinis terukir di bibirnya yang tipis. “Aku tidak menyangka seleramu merosot drastis. Dari calon nyonya besar keluarga Xu menjadi ... sampah klub malam.”
The Velum memang menyediakan layanan wanita penghibur kelas atas yang identitasnya dijaga sangat rahasia. Para wanita yang dilatih untuk memuaskan ego dan hasrat para miliarder. Tapi aku? Aku hanya resepsionis. Aku bertugas mengecek data, bukan menjual raga.
“Saya bukan bagian dari pelayanan itu, Tuan,” ucapku dengan suara bergetar, berusaha mempertahankan sisa-sisa martabatku, bahkan memanggilnya Tuan terus menerus, padahal dulu kami berbagi ranjang yang sama.
Severian tergelak, suara tawa yang hampa dan mengerikan. Ia memajukan dadanya ke depan, hingga aroma parfum woody maskulinnya yang familier memenuhi indra penciumanku. Aroma yang dulu berarti keamanan, kini berarti ancaman.
“Di The Velum, semuanya bisa dibeli, Ivy. Apalagi wanita sepertimu yang dulu pergi hanya karena tumpukan uang dan tiket pesawat.”
Dia … ya, dia pasti sudah mendapat informasi itu dari keluarganya.
Di belakangnya, dua pria melangkah maju. Aku mengenali mereka seketika. Keane dan Draven Lycus. Tuan muda dari keluarga Lycus, kerabat dekat yang sudah menjadi saudara bagi Severian.
Keduanya mematung saat melihatku. Mata Keane membelalak, sementara Draven tampak tidak percaya.
“Ivy? Ivy Ruo? Kamu … kamu kenapa di sini?” gumam Keane, suaranya mengandung nada terperangah yang tak bisa disembunyikan.
Draven memandang bergantian antara aku dan Severian. “Kalian … hey, kamu … Severian? Ini … itu Ivy!”
Setelah apa yang terjadi tujuh tahun lalu, entah sejelek apa namaku di mata kekuarga Xu. Rasa terkejut mereka juga pasti dibarengi rasa muak melihatku.
Namun, aku memaksakan diri untuk menarik napas, mencoba bersikap profesional meski hatiku hancur berkeping-keping bertemu dengan mereka semua. “Selamat malam, Tuan Keane, Tuan Draven. Senang melihat Anda berdua dalam keadaan baik.”
“Tidak usah menyapa sok ramah dan sok formal!” Severian menyela dengan kasar, suaranya meninggi hingga beberapa tamu di antrean menoleh. “w************n sepertimu tidak berhak bicara dengan pria berkelas seperti aku dan saudara-saudaraku. Kamu hanya sampah yang seharusnya sudah hilang.”
Draven menyentuh bahu saudaranya, berbisik pelan, “Sev, tenanglah. Banyak mata melihat. Jangan buat keributan di sini.”
Keane juga ikut menimpali dengan nada cemas, “Mari masuk dulu, kita bicarakan di dalam jika kamu mau. Kendalikan dirimu!”
Aku tidak sanggup lebih lama lagi berbicara dan mengadu tatap dengan mereka. Walau tangan gemetar, aku segera mengambil kartu akses emas dari laci meja. “Ruangan VVIP 206, Tuan. Ini kartu Anda.”
Severian menyambar kartu itu dengan kasar, ujungnya sempat menggores telapak tanganku hingga perih. Tanpa kata lanjutan, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah angkuh, diikuti oleh Keane dan Draven yang sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan iba yang justru terasa mencekikku.
Begitu sosok mereka menghilang di balik pintu lift berlapis emas, setetes air mata jatuh tanpa izin. Aku segera menghapusnya dengan punggung tangan.
‘Kamu harus kuat, Ivy. Jangan menjadi lemah sekarang. Kamu butuh pekerjaan ini. Lucian butuh obatnya, butuh perawatannya!’
***
Ruang VVIP 206
Di dalam ruangan yang luasnya setara dengan apartemen mewah itu, suasana terasa tegang meski musik santai mengalun. Lelaki bernama Han, manajer The Velum, masuk dengan tubuh membungkuk hormat.
“Selamat malam, Tuan-Tuan Muda yang terhormat. Suatu kehormatan bagi kami menerima kunjungan Anda kembali,” ucap Manajer Han dengan nada menjilat.
Lalu, ia menoleh pada Draven dan Keane. Matanya mengerling nakal. “Apakah ingin pelayanan yang biasa? Gadis-gadis pilihan kami sudah siap.”
“Tentu, Han. Bawa yang terbaik,” sahut Draven tertawa dan mengusapkan kedua telapak tangannya, pertanda ia bersiap untuk bersenang-senang malam ini.
Pun dengan Keane, “Carikan aku yang pirang, bermata biru, dan tinggi! Dadanya harus besar!” gelaknya.
Mendadak ….
“Bawakan aku wanita malam ini!
Semua sontak terdiam dan menatap pada Severian.
Ini pertama kalinya pria itu meminta wanita. “Tentu, Tuan! Suatu kehormatan yang luar biasa!” seru Han sumringah.
“Anda mau yang seperti apa? Kami punya koleksi dari Eropa, Asia, yang tinggi karena merangkap foto model, atau yang lebih ... mungil dan … penurut?”
“Aku mau resepsionis di depan tadi. Bawa dia kemari!” Permintaan itu bukan sekadar bercanda, wajahnya sangat serius mengintimidasi.
Suasana mendadak hening. Manajer Han terkesiap, wajahnya kebingungan. “Tuan Xu ... maafkan saya, tapi Ivy Ruo bukan bagian dari staf pelayanan escort.”
“Dia hanya staf administrasi di bagian depan. Kami punya gadis lain yang jauh lebih mahir dan cantik, pasti bisa menye—”
“AKU MAU IVY RUO!”
Bentakannya dilakukan dengan telapak tangan menggebrak. Mata menatap tajam pada Manajer Han.
Keane menghela, “Sev, come on ….”
Tak mempan. Tuan Muda Xu sekali lagi memerintah. “Bawa Ivy Ruo kemarin! Apa kamu tuli!”
“Tapi, Tuan, kebijakan klub hanya lady escort yang bisa diba—"
Severian berdiri, auranya begitu mengintimidasi hingga Manajer Han mundur selangkah. “Aku bisa memastikan kamu dipecat malam ini juga kalau tidak segera membawa Ivy Ruo ke depanku dalam waktu lima menit ke depan!”
***
Aku sedang mencoba menenangkan diri di depan komputer saat Manajer Han datang dengan wajah panik dan napas tersengal.
“Ivy! Kamu harus ke ruang 206 sekarang!”
Jantungku hampir lompat dari dalam d**a. “Sir, saya baru saja memberikan kartu mereka. Ada masalah dengan sistemnya?”
“Bukan sistem, Ivy. Aduuuh!” engah sang manajer. “Tuan Xu ... dia memintamu menjadi penghibur khususnya malam ini. Kamu harus masuk ke sana dan melayaninya!”
Duniaku serasa membeku dan runtuh begitu saja untuk kedua kalinya malam ini. “Sir, Anda tahu saya tidak bisa melakukan itu. Saya resepsionis! Saya tidak mau melayaninya!”
“Ivy, tolonglah!” Manajer Han nyaris menangis panik. “Tuan Xu mengancam akan memecat kita semua!”
“Kamu pasti tahu betapa berkuasanya keluarga Xu. Jika kita berdua dipecat, dari mana kamu dapat uang untuk biaya rumah sakit Lucian?”
Nama anakku disebut, dan itu adalah pukulan telak. Bayangan putra kecilku menunggu obat-obatan mahal yang hanya bisa kubeli dengan gaji dari tempat ini, membuat seluruh penolakanku menguap.
“Apa yang dia inginkan dariku?”
“Hanya temani dia minum, Ivy. Lakukan saja apa yang dia minta agar dia senang. Please ... nasib kelangsungan pekerjaan kita di klub ini ada di tanganmu.”
“Baiklah ….”
***
Dengan langkah yang terasa tak menapak bumi, aku berjalan menuju lantai VVIP. Setiap langkah adalah kesakitan terbesar bagi diriku sendiri.
Namun, demi Lucian, aku akan menelan semua duri ini.
Aku membuka pintu ruangan 206 dengan tangan gemetar.
Pemandangan di dalam membuatku ingin segera lari. Di sofa beludru panjang, sudah ada dua wanita berpakaian sangat minim, hanya sejumput kain sutra yang menutupi bagian vital mereka.
Dua wanita itu sedang duduk di pangkuan Keane dan Draven. Ruangan sudah beraroma alkohol dan kemewahan, ciri khas para Tuan Muda.
Aku berdiri membeku di dekat pintu, masih mengenakan seragam resepsionisku yang tertutup, yaitu kemeja biru muda dan rok span hitam selutut.
Severian yang duduk di sofa tunggal paling tengah, memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
“Kamu mau di sana sepanjang malam atau masuk ke sini?” desisnya tersenyum seperti seorang b******n.
Aku melangkah maju tiga kali hingga jarakku dengannya sekitar empat atau lima meter, masih terpisah meja di depan pria itu.
Sekali lagi, matanya memindaiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, pada dua wanita yang sedang menyenangkan Keane serta Draven.
Lalu, ia menatap padaku semakin tajam mengejek, “Kenapa kamu masih memakai baju itu?” tanyanya dengan suara dingin menggigilkan tulang.
Aku menelan ludah. “Tuan Xu, saya di sini untuk menemani Anda minum dan mungkin bernya—”
“Lihat teman-temanmu!” potongnya sambil menunjuk dua wanita yang sedang bermanja-manja pada Keane dan Draven. “Mereka tahu cara berpakaian untuk menyenangkan tamu.”
Ia menyeringai kejam, sebuah senyuman yang tidak pernah kulihat tujuh tahun lalu. Senyum seorang predator yang telah menemukan mangsanya … yaitu aku.
Sial sekali! Dia sepertinya benar-benar membenciku, dendam kesumat!
“Aku mau kamu memakai pakaian seksi seperti mereka. Atau kamu lebih suka aku yang merobek pakaianmu itu di sini, di depan semua orang supaya kamu terlihat seksi?”
Kekehnya seperti nyanyian iblis di telingaku. “Pilih sekarang! Pakai baju seksi seperti mereka, atau aku sobek seragammu!”