"Tidak, Tu-Tuan Xu ... aku mohon. Jangan lakukan ini," rintihku dengan suara yang hampir tak bisa keluar karena terlalu takut dan sakit. Air mata mengalir pelan, membasahi pipi yang terasa panas karena malu.
Severian justru tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu, tetapi seakan mengandung racun. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatapku seolah aku adalah makhluk serangga tak berguna yang sedang menggeliat kesakitan di bawah kakinya.
"Kenapa tidak mau? Bukankah dengan bekerja di tempat seperti ini artinya kamu sudah siap menjual diri? Jangan berlagak suci, Ivy. Pakaian tertutupmu itu hanya kedok untuk menaikkan harga, bukan?"
“Buktinya, dulu kamu mau pergi begitu saja dariku demi lelaki lain yang bisa memberimu uang banyak! Apa kamu kira aku tidak bisa memberi lebih banyak dari itu, hah? Yah, sekali murah memang akan selalu murahan!” desisnya terkekeh puas melihatku semakin meneteskan air mata.
Di sudut ruangan, Keane dan Draven berhenti bercanda dengan wanita di pangkuan mereka. Suasana mendadak kaku. Dua wanita penghibur itu pun saling lirik, merasa tidak nyaman dengan kemarahan yang kian meluap dari tubuh Severian.
"Severian, sudah! Jangan keterlaluan padanya! Suruh dia kembali ke depan!" tegur Draven pelan.
Severian tidak menggubris. Ia justru bangkit berdiri, melangkah mendekatiku dengan tatapan mengancam. "Kalau kamu tidak mau berganti baju seksi, biar aku yang menyobek seragam ini sekarang juga!”
“Aku ingin tahu, apa yang sekarang kamu sembunyikan di balik kain murah ini."
Tubuhku gemetar hebat. Bayangan seragam ini hancur di depan mata ketiga pria ini membuat jantungku serasa mau copot. Tanpa sadar, mendadak aku berlutut di hadapannya, seakan menyembah dengan tangan bertemu di depan d**a.
"Aku mohon …. Jangan robek bajuku. Aku mohon ...!” tangisku pecah. "Jangan di depan semua orang."
Severian menatapku dari posisinya yang tinggi berdiri, sorotnya sungguh penuh kebencian. Lalu, mendadak ia berjongkok agar wajah kami sejajar. "Kalau tidak mau disobek, maka buka sendiri!” gelaknya mengejek.
“Buka seluruh kancing bajumu agar kamu terlihat lebih pantas berada di ruangan ini. Lakukan, atau aku pastikan malam ini kamu kehilangan pekerjaanmu! Kamu tahu aku tidak pernah main-main dengan ancamanku!"
Pikiranku seketika melayang pada Lucian. Anakku malang yang butuh biaya pengobatan. Jika aku dipecat, dari mana aku bisa mendapatkan $10.000 setiap bulan untuk membiayai semua pengobatannya?
Severian menatapku dengan kebencian yang membara. Di kepalanya, masih terbayang jelas saat ia baru bangun dari koma tujuh tahun lalu.
Tubuhnya sangat lemah, tetapi berita yang ia terima sepertinya lebih mematikan daripada gagal ginjalnya. Berita bahwa kekasihnya pergi dengan lelaki lain setelah menerima uang dari lelaki tersebut.
Dendam itu telah membusuk di hatinya selama bertahun-tahun, dan kini ia ingin aku merasakan sakit yang sama.
Dengan tangan gemetar dan isak tangis yang tertahan, aku mulai menyentuh kancing paling atas kemejaku.
Satu kancing terlepas.
"Terus!" perintahnya kejam.
Kancing kedua terlepas. Kulit leherku mulai terpapar udara dingin ruangan. Napasku tersengal-sengal karena tekanan mental yang luar biasa.
Saat jemariku gemetar menuju kancing ketiga ….
"Cukup, Severian! Hentikan kegilaan ini!" suara Keane menggelegar. Ia tiba-tiba sudah berdiri di sudut ruangan dan menatapku iba. Sejak dulu dia memang baik padaku.
Keane adalah Putra Mahkota Keluarga Lycenzo, sebuah keluarga mafia yang paling ditakuti di Amerika. Di dunia bisnis maupun sosial, posisi Keluarga Xu berada di bawah naungan Keluarga Lycenzo.
Severian terdiam, ia melirik Keane yang tampak sangat marah. Tapi sepertinya dia tahu untuk tidak membantah sang Putra Mahkota.
"Kalau kamu terus melakukan ini, aku tidak akan pernah mau lagi pergi bersamamu. Ini tidak benar!" lanjut Keane menahan engah.
Severian mendengus, lalu dengan kasar ia menyambar tanganku yang hendak membuka kancing ketiga. Cengkeramannya sangat kuat hingga pergelangan tanganku memerah.
"Aku benar-benar bersyukur bisa lepas dari w************n sepertimu," desisnya tepat di telingaku. "Demi uang, kamu rela bekerja di tempat hina ini. Bahkan kamu rela melepas kancing di depan banyak pria hanya agar tidak dipecat. Kamu benar-benar sampah, Ivy."
Ia mengibaskan tanganku dengan kasar seolah aku adalah anjing penyakitan. "Pergi dari sini! Keluar!"
Aku segera mengancingkan kembali kemejaku, berlari keluar dari ruangan VIP 206 dengan sisa tenaga yang ada.
Di koridor yang sepi, aku menangis sesenggukan. Ingin rasanya aku berteriak bahwa aku melakukan ini demi putranya. Demi Lucian yang juga memiliki penyakit yang sama dengannya. Tapi aku hanya bisa memendam jeritan itu di dalam hati.
‘Kamu tidak tahu, Severian. Kamu tidak tahu ada seorang anak di rumahku yang menunggu biaya pengobatannya … dia anakmu!’
***
Sinar matahari masuk melalui celah gorden, tetapi kepalaku terasa sangat berat karena hanya tidur dua jam dan lebih banyak menangis sejak pulang dari klub malam.
"Mommy? Kenapa mata Mommy bengkak?" suara kecil Lucian mengejutkanku saat aku sedang menyiapkan sarapan di meja dapur.
Aku segera menghapus sisa air mata dan berbalik dengan senyum yang dipaksakan. "Ah, ini? Tadi malam ada debu masuk ke mata Mommy saat bekerja, Nak. Jadi Mommy menggosoknya terlalu keras."
Lucian mendekat, tangan kecilnya menyentuh pinggangku, memeluk. "Apakah Mommy sakit? Atau Mommy sedih karena aku yang terus sakit?"
Hatiku bagai disayat sembilu, pedih. Aku bersimpuh dan memeluk tubuh mungilnya erat-erat. "Tidak, sayang. Mommy sangat bahagia selama ada Lucian. Kamu akan segera sembuh, dokter sedang merumuskan berbagai terapi baru. Mommy tidak sakit, hanya sedikit mengantuk."
Aku tidak mungkin bercerita pada ibuku atau Lucian bahwa aku bertemu kembali dengan Severian. Aku juga tidak sanggup menceritakan bagaimana ayah kandungnya hampir menelanjangiku di depan orang lain tadi malam. Luka itu biarlah aku sendiri yang menanggungnya.
“Tersenyumlah, Mommy. You are my star.”
“And you are my moon, Lucian.”
***
Pukul sembilan pagi, aku sudah berada di kantor perusahaan teknologi tempatku bekerja sebagai Integration Partnership Manager. Aku berusaha tampil profesional dengan riasan tebal untuk menutupi jejak tangis semalam.
Sir Arthur, bos besar di kantor ini, memanggilku ke ruang rapat utama. "Ivy, kinerjamu selama ini sangat luar biasa. Kamu sangat teliti dalam menyusun draf kerja sama kita."
"Terima kasih, Sir. Saya hanya melakukan yang terbaik," jawabku dengan sopan.
"Dengar, jika kesepakatan hari ini gol dan perusahaan bisa untung lebih dari 10 juta Dollar, aku akan memberimu bonus tahunan minimal $100.000. Kamu pantas mendapatkannya," ujar Sir Arthur dengan bangga.
Angka itu membuat jantungku berdegup kencang. $100.000! Itu cukup untuk biaya operasi dan perawatan jangka panjang Lucian. Aku merasa ada harapan baru di tengah kegelapan ini.
“Sampai jumpa di ruang rapat, ya!”
“Siap, Sir!”
***
Saat kami sudah masuk di ruang rapat dan kembali membahas detail program kerja sama, tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka lebar. Sekelompok orang masuk dengan langkah tegap. Di tengah rombongan itu, sosok pria tinggi dengan aura dominan membuat seluruh tubuhku kaku seketika.
Severian Xu.
Ia berdiri di sana, mengenakan setelan jas abu-abu gelap, tampak sangat berkuasa sebagai CEO perusahaan pusat yang menjadi calon rekanan kami. Mata kami bertemu sekejap, tetapi ia segera memalingkan wajah dengan ekspresi muak.
"Silakan dimulai. Saya tidak punya banyak waktu untuk membuang energi di perusahaan kalian," ucap Severian dingin sambil duduk di kursi utama.
Sir Arthur memberi isyarat padaku untuk memulai. Aku menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan memori pahit tadi malam. Aku harus profesional demi bonus itu. Demi Lucian.
Kakiku mulai melangkah ke depan layar proyektor. "Selamat pagi semuanya. Hari ini saya akan mempresentasikan integrasi sistem melalui Application Programming Interface atau API terbaru yang kami kembangkan. Software ini menggunakan arsitektur microservices untuk memastikan skalabilitas tinggi saat trafik melonjak."
Aku mulai menjelaskan detail teknis dengan lancar, meski terus menerus berusaha menghindari tatapan tajam mantan kekasihku tersebut. "Kami menggunakan protokol OAuth 2.0 untuk keamanan data, dan seluruh endpoint telah kami optimasi dengan latency di bawah 100 milidetik.”
“Integrasi ini akan memungkinkan perusahaan Anda melakukan sinkronisasi data secara real-time tanpa perlu melakukan reboot pada server utama."
Selama sepuluh menit, aku berbicara dengan penuh percaya diri, menggunakan bahasa pemrograman dan logika bisnis yang matang. Akan tetapi, saat aku baru saja hendak masuk ke bagian estimasi keuntungan, Severian mengangkat tangannya.
"Berhenti!" Suaranya memotong penjelasanku seperti pisau tajam mengiris daging.
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Sir Arthur tampak bingung.
"Ada masalah, Tuan Xu?" tanya Sir Arthur hati-hati.
Severian menyeringai sinis, matanya menatapku dengan tatapan merendahkan nan tajam. "Semua yang baru saja diucapkan oleh wanita ini adalah bullshit! Penjelasannya tidak berdasar dan hanya omong kosong teknis yang tidak berguna."
Aku tertegun. "Tapi, Tuan, data yang saya sampaikan berdasarkan hasil uji coba laboratorium kami da—"
"Diam!" bentak Severian. Ia tertawa kecil yang terdengar meremehkan di depan seluruh petinggi kantor. "Kenapa wanita bodoh seperti ini bisa menjadi Project Manager di sini? Apa kamu merekrutnya hanya karena wajahnya, Arthur?"
Wajah Sir Arthur memerah karena malu dan bingung.
"Tuan Xu, Ivy adalah salah satu karyawan terbaik kami selama lima tahun tera—"
"Kalau begitu standar perusahaanmu sangat rendah!" potong Severian sekali lagi, telak. Ia berdiri, merapikan kancing jasnya dengan angkuh.
Sambil memandang dengan sorot mengejek, ia berdesis, “Suruh dia membuat ulang presentasinya dan temui aku di kantorku besok jam tujuh malam!”
“Kalau dia gagal memberikan presentasi yang aku inginkan, jangan harap aku mau berinvestasi di perusahaan ini lagi untuk selamanya!”
Aku tertegun, terengah, harus datang ke kantornya besok malam? Apa yang akan dia lakukan padaku?