Ch.04 Tanda Tangan di Perut

1415 Kata
Sepanjang hari, aku mengurung diri di kubikel kantor dengan mata yang terus berair akibat cahaya layar monitor. Tanganku tidak berhenti mengetik, menyusun ulang setiap baris kode dan detail presentasi yang tadi pagi dihina oleh Severian. Aku tidak tahu apakah penolakannya murni karena masalah teknis atau memang dendam pribadinya yang ingin melihatku merangkak. Namun, demi bonus $100.000 yang dijanjikan Sir Arthur, aku harus bertahan. Hari ini aku sampai ijin kepada Manajer Han untuk tidak masuk kantor karena Severian ingin bertemu jam tujuh malam. Untung saja beliau mengijinkan. Tepat pukul tujuh malam, aku melangkah masuk ke lobi gedung LycenTech. Gedung pencakar langit ini milik keluarga Xu, tempat yang dulu sering kudatangi saat masih menjadi kekasih sang Putra Mahkota Xu. Begitu aku sampai di meja resepsionis, seorang petugas keamanan langsung menghampiriku. "Nona Ivy Ruo? Tuan Xu sudah menunggu Anda. Mari, saya antar ke lantai atas," ucap petugas itu dengan nada datar. Aku hanya mengangguk pelan. Di dalam lift yang bergerak cepat menuju lantai 12, jantungku berdegup kencang. Saat pintu besi itu terbuka dan aku melangkah masuk ke ruang kerja Severian, napasku seolah terhenti. Ruangan ini ... masih sama. Bahkan, bau parfum pria itu yang melekat di ruangan ini masih sama dengan tujuh tahun lalu. Sepertinya memang ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa berubah. Hanya ada tambahan beberapa lukisan abstrak dan hiasan dinding yang baru. Selebihnya, posisi meja besar itu, sofa kulit berwarna cokelat tua, hingga jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap New York, semuanya masih berada di tempat yang sama. Kenangan-kenangan manis mendadak menyerbu otakku tanpa permisi. Aku ingat bagaimana kami dulu sering menghabiskan waktu di sini saat ia masih belajar mengelola perusahaan. Canda tawa, membuat program bersama, hingga detik-detik di mana ia mulai sakit. Pertama kali Severian merasa seluruh tubuhnya sakit luar biasa hingga keringat dingin dan dilarikan di rumah sakit terjadi di ruang ini. Tepatnya di dekat sofa tersebut. Severian yang sedang berdiri membelakangi pintu sambil menatap ke luar jendela, tiba-tiba tertawa mengejek. Suaranya memecah keheningan yang menyesakkan. Ia menyeringai menatapku. "Kenapa diam di sana? Apa kamu sedang mengingat bagaimana dulu kita sering bermesraan di depan jendela itu, hmm?" Sang CEO berbalik, menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. "Ingat bagaimana aku sering memelukmu dari belakang sambil memandangi lampu kota? Lucu sekali, karena sekarang semua itu menjadi penyesalan terbesar di hidupku." Aku menundukkan kepala, tidak berani menatap matanya yang penuh luka dan kebencian. Tanganku meremas tali tas laptop dengan kuat. Aku tidak menjawab sepatah kata pun, karena aku tahu penjelasan apa pun tidak akan ia dengar. Aku segera berjalan menuju sudut ruangan tempat proyektor berada. Tanpa sadar, gerakanku sangat natural karena aku masih menghafal setiap sudut kantor ini. Saat layar proyektor tidak segera menyala, aku berjongkok dan memeriksa kabel konektor di bagian bawah meja, lalu menekannya hingga lampu indikator berubah hijau. Severian tertegun memperhatikan gerak-gerik Ivy yang dengan cekatan memasang ini itu seakan hafal luar kepala dengan situasi meja presentasinya. Batin pria itu bergumam gundah. ‘Dia ternyata masih hafal tata letak kantorku, bahkan sampai masalah kabelnya. Sangat impresif untuk ukuran wanita yang sudah menghilang tujuh tahun.’ "Bisa aku mulai sekarang presentasinya?” pintaku menatap sekilas, lalu cepat mengalihkan pandang. "Buatkan aku kopi dulu," perintahnya tiba-tiba. "Aku tidak bisa fokus mendengar ocehanmu tanpa kafein." Aku menghela napas, lalu berjalan keluar menuju pantry yang lokasinya tidak berubah. Di sana, aku menyeduh kopi hitam dengan seperempat gula, dan setengah sendok krim, persis seperti seleranya dulu. Ketika aku kembali dan meletakkan cangkir itu di mejanya, Severian menyeruputnya sedikit. Gerakannya terhenti sejenak. Dia menunjukkan keterkejutan yang samar sebelum kembali menjadi paras dingin dan angkuh. Ivy tidak salah. Severian memang kembali tertegun atas rasa kopi ini. Batinnya sekali lagi bergejolak. ‘Rasa kopi ini masih sama dengan yang dulu sering dia buatkan padaku. Dia … dia masih mengingat semuanya?’ “Ada lagi yang kamu ingin untuk aku lakukan?” tanyaku menghela lelah. "Mulai presentasimu," jawabnya ketus. Aku membuka laptop dan mulai menjelaskan bagian back-end dari sistem yang aku bangun. "Oke. Aku mulai, ya.” “Di bagian ini kami menggunakan Node.js untuk menangani asynchronous I/O agar performa tetap stabil meskipun nantinya a—" "Salah," potong Severian menyeringai dingin. "Logikamu cacat. Kenapa tidak pakai Go saja kalau kamu mengejar kecepatan? Pakai Node hanya akan membuat servermu sesak saat ribuan pengguna masuk bersamaan." "Tapi, struktur data kami sudah dioptimasi dengan Redis sebagai caching layer, jadi beban I/O pada database utama sangat berku—" "Tetap saja sampah! Kamu tidak mengerti apa-apa soal efisiensi sistem skala besar!" teriaknya sambil memukul meja, bahkan terengah. Sebuah kemarahan yang seharusnya tak perlu ada, tetapi selalu muncul darinya. Debat selanjutnya berlangsung panas. Severian terus menekan dan menyalahkan setiap aspek teknis yang aku sampaikan. Ia menggunakan istilah-istilah pemrograman yang rumit hanya untuk memojokkanku, tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan lebih jauh. "Aku mau bagian load balancing dan arsitektur databasenya diubah total sesuai keinginanku. Semuanya!" ucap Severian sambil menyandarkan tubuhnya dengan angkuh ke kursi kerajaan bisnisnya. Otakku mulai terasa panas. "Ayolah, jika diubah total dari awal, itu artinya aku harus bekerja mulai dari nol lagi. Aku butuh waktu berhari-hari untuk itu." Padahal aku harus bekerja shift malam di The Velum setiap malam kecuali hari Minggu. Tubuhku sudah sangat lelah, dan kini dia memintaku melakukan hal yang mustahil dalam waktu singkat. "Aku tidak peduli," sahut Severian sambil terkekeh sinis. "Kalau kamu tidak mengubahnya, aku tidak akan menandatangani kontrak kerja sama ini. Sir Arthur pasti akan sangat kecewa melihat kerja sama denganku gagal, bukan?" “Berapa bonus tahunan yang dia tawarkan padamu kalau kontrak denganku berhasil? Seratus, dua ratu, atau satu juta dollar seharga cintamu tujuh tahun lalu, hah?” Aku terdiam. Aku tidak mengerti ucapannya, tetapi aku juga tidak berusaha untuk cari tahu mengenai masa lalu. Sejujurnya, aku tidak peduli apa pun di masa lalu. Yang aku pedulikan hanyalah mempertahankan pekerjaanku. Ia kemudian berdiri dan melangkah mendekatiku hingga jarak kami hanya tersisa beberapa senti. Aroma woody maskulinnya kembali menyiksaku dengan kerinduan yang mencekam. "Kalau kamu tidak mau mengulang dari awal, aku punya solusi singkat untukmu,” kekehnya menatap dengan sorot merendahkan. “Kalau kamu mau aku segera menandatangani kontrak ini tanpa revisi, bawalah dokumennya kemari. Aku akan menandatanganinya di atas perutmu, dengan syarat tubuhmu tidak memakai sehelai benang pun." Aku tersentak mundur, menatapnya dengan rasa tidak percaya dan muak luar biasa. "Apa katamu? Kamu … kamu benar-benar biadab!” "Kenapa? Bukankah kamu sudah biasa menjual tubuh demi uang? Dulu kamu meninggalkanku demi laki-laki kaya dan uang darinya. Sekarang, kamu juga bekerja di klub malam.” “Jadi, apa bedanya dilihat telanjang olehku atau oleh pria lain?" gelaknya benar-benar melecehkanku dengan kata-kata. Aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya. Ingin kukatakan bahwa aku pergi karena diancam, karena aku ingin dia mendapat donor ginjalnya dan tetap hidup! Namun, bayangan rentetan peluru di jembatan itu kembali muncul. Jika aku bicara, apakah orang yang mencoba membunuhku dulu akan kembali dan menyakitiku? Yang mana sekarang sudah ada Lucian pula. Ketakutan itu membungkam mulutku. Saat aku sedang menahan amarah dan kehinaan yang luar biasa, ponsel di dalam saku celanaku bergetar kencang. Aku mengambilnya, melihat nama Mommy di layar. Jantungku seketika berdetak kencang dengan kekhawatiran. "Maaf, aku harus menerima telepon dari ibuku," ucapku sambil menjauh dari Severian. Dia diam saja dan memerhatikanku melangkah menuju pintu. "Halo, Mommy?" "Ivy! Ivy, cepat ke rumah sakit pusat!" suara Mommy terdengar histeris di seberang telepon. Isak tangisnya pecah. "Lucian ... Lucian tadi pingsan di rumah. Wajahnya sangat pucat dan badannya dingin sekali. Sekarang dia sedang dilarikan dengan ambulans ke rumah sakit! Aku di ambulans bersamanya!” “Iya, iya, aku ke sana sekarang! Kabari aku terus, ya tentang keadaannya!” engahku dengan pelupuk mendadak tergenangi butiran bening. Duniaku remuk redam seketika. Aku berlari masuk ke dalam ruang kerja Seveian dengan wajah pucat pasi dan kegugupan luar biasa. Laptop yang masih menyala di atas meja hampir saja kusenggol jatuh. “Ada apa? Kekasihmu menyuruhmu pulang? Apa dia masih lelaki yang sama dengan tujuh tahun lalu? Sepertinya dia sudah jatuh miskin hingga kamu harus bekerja dobel dan menjadi p*****r?” tawanya terus mengejekku. "Aku harus pergi," ucapku pendek tanpa menatapnya lagi. Aku tidak peduli dia mau mengejekku seperti apa lagi. "Hei! Urusan kita belum selesai, Ivy Ruo! Kembali ke sini!" teriak Severian dari belakang. “Kembali ke sini atau aku batalkan kontraknya detik ini juga!” Namun aku tidak peduli. Masa bodoh dengan kontrak, masa bodoh dengan bonus, dan masa bodoh dengan dendam pria itu. Saat ini, hanya ada satu nama yang memenuhi seluruh jiwaku. Lucian. Dan Severian, dia hanya bisa mendengkus sinis. “Sial! Siapa yang dia temui hingga seterburu-buru ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN