Aku berlari menyusuri lorong Rumah Sakit John Howard Hospital dengan napas yang memburu. Di balik tirai IGD nomor empat, aku menemukan putra kecilku terbaring lemah dengan wajah sepucat kertas.
“Mommy,” panggilnya lemah.
“Akhirnya kamu datang juga!” Ibu memelukku lega. “Kata dokter penyakitnya sedang kambuh.”
Aku mengangguk dan berjalan menuju meja dokter jaga. Di sana serang ada dokter nefrologi yang biasa menangani Lucian. Kebetulan dia sedang praktek.
“Dokter, bagaimana keadaan putraku?" tanyaku dengan suara serak, menggoyang lengan dokter jaga yang baru saja memeriksa Lucian.
"Oh, malam, Nyonya Ruo. Lucian pingsan karena kondisi ginjalnya. Penyakit Steroid-Resistant Nephrotic Syndrome yang diidapnya sedang mengalami gejolak.”
“Saya menyarankan Lucian untuk opname satu malam ini. Jika besok pagi kondisinya membaik, dia boleh pulang," jelas dokter tersebut dengan tenang.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. "Lakukan yang terbaik, Dokter. Aku setuju saja demi keselamatannya."
Setelah Lucian dipindahkan ke kamar perawatan dan akhirnya tertidur lelap dan Ibu pulang ke rumah, aku tidak membiarkan diriku beristirahat. Aku duduk di sofa kecil samping tempat tidurnya, membuka laptop, dan kembali berkutat dengan kode-kode rumit.
Pikiranku terbagi antara memantau tidur Lucian dan bayangan amarah Severian yang menungguku. Pria itu sama sekali tidak tahu ada darah dagingnya di sini, memiliki kelainan ginjal yang menurun darinya.
Jika ada yang paling harus bertanggung jawab terhadap penderitaan Lucian dengan penyakitnya maka itu adalah Severian. Akan tetapi, dia hanya terus mengejek dan merendahkan diriku. Yah, mau bagaimana lagi? Dia juga tidak tahu aku punya anak dengannya.
Aku segera menghubungi timku melalui sambungan video terenkripsi. "Guys, aku minta maaf mengganggu malam kalian.”
“Anakku sedang opname lagi, dan klien kita, Tuan Xu, meminta perubahan total pada arsitektur database dan sistem load balancing. Kita harus mengubahnya dari struktur monolithic ke fully microservices malam ini juga."
"Apa? Itu gila, Ivy! Dia pikir kita bisa membangun Piramida Mesir dalam satu malam?" keluh salah satu programmer-ku di seberang sana.
"Aku tahu. Tapi bonus kita bergantung pada ini. Tolong bantu aku. Aku sudah memetakan endpoint-nya, kalian bantu aku di bagian deployment script," pintaku dengan nada memohon.
“Untung kamu jenius, Ivy. Kalau tidak, otak kita semua pasti akan terbakar malam ini,” kekeh programer yang lain.
Aku tertawa kecil. Mendadak teringat candaan teman-teman dulu yang sering berkata bahwa aku dan Severian adalah pasangan jenius. Teringat pula bagaimana kami senang membangun program dan menganggapnya sebagai anak kami.
Dan … program pertama yang kami buat adalah sejenis kecerdasan buatan, AI.
Kami lalu menamai program itu … Lucian.
Iya, Lucian. Seperti nama anakku yang pertama ini. Asal namanya adalah dari program AI yang pertama kali kubuat bersama Severian.
Lucian artinya pencerahan atau cahaya terang. Harapan kami program AI tersebut bisa terus berkembang dan menjadi pencerahan bagi banyak orang. Sayang, Severian kemudian mulai jatuh sakit dan program itu terbengkalai hingga kini.
‘Hentikan, Ivy. Dia sudah bukan Severian yang dulu. Dia sudah menjelma menjadi lelaki b******k yang membencimu setengah mati!’
Sepanjang malam, di bawah lampu remang kamar rumah sakit, kami bekerja seperti orang kesurupan. Jari-jariku menari di atas keyboard sementara mataku sesekali melirik Lucian. Aku menjelaskan logikanya kepada tim, memastikan tidak ada satu pun celah yang bisa digunakan Severian untuk menjatuhkanku lagi.
***
Keesokan siangnya, dokter mengizinkan Lucian pulang. "Dia sudah stabil, tapi harus istirahat total selama tiga hari ke depan. Pastikan dia minum obat imunisupresannya tepat waktu."
“Siap, Dokter. Terima kasih banyak.”
Sampai di rumah, aku kembali duduk di depan laptop. Menjelang sore, berkat kerja keras tim dan sisa tenagaku, semua permintaan Severian selesai. Aku mandi dengan terburu-buru, mengenakan pakaian paling rapi yang aku punya, berias ala kadarnya, dan kembali mendatangi kantor LycenTech.
Resepsionis di lobi segera menghubung asisten pribadi Severian. "Tuan Xu sedang menunggu Anda, Nona Ruo. Silakan langsung naik."
Begitu aku masuk ke ruang kerjanya, Severian tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyindirku. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil memutar-mutar pena emas.
"Wah, kamu datang tepat waktu. Bagaimana? Apa kekasihmu yang semalam menelepon itu baik-baik saja setelah kalian ... berurusan?" sindirnya dengan nada penuh penghinaan.
“Apa kamu berteriak saat dia memuaskanmu? Apa dia jago di ranjang?” tawanya mencibir. “Eh, atau jangan-jangan kamu semalam dapat job besar hingga langsung kabur dariku? Dibayar berapa ribu dollar, hah?”
Rasa kesalku yang sudah menumpuk sejak semalam mendadak mendidih. Aku sudah cukup menderita dan lelah lahir batin menunggui anakku di rumah sakit, tidur hanya satu jam, dan sekarang aku harus mendengar ejekan tak berdasar ini lagi.
"Iya, kekasihku baik-baik saja!” jawabku dengan nada berani, menatapnya tepat di mata. "Bahkan kami melewati malam yang sangat panas dan menyenangkan semalam!”
Lalu, aku tertawa kecil, “Dan kamu sepertinya masih ingat kalau aku kadang memekik ketika mencapai klimaks? Kali ini, karena dia sungguh jago di ranjang, aku memekik sangat kencang! Terima kasih sudah mengkhawatirkan kenikmatan ranjangku."
Wajah Severian seketika berubah merah padam. Ia berdiri dengan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang menabrak dinding. "Berhenti membual soal kehidupan murahanmu itu! Segera mulai presentasinya!" bentaknya.
Aku tersenyum dingin, tapi bersorak dalam hati. Ada kepuasan tersendiri karena bisa membuatnya marah seperti sekarang.
Aku segera menyalakan proyektor. "Baik, aku mulai sekarang presentasinya. Asal kamu tahu, aku dan timku tidak tidur semalam. Jadi, tolong jangan minta yang aneh-aneh lagi.”
“Kami sudah beralih ke arsitektur microservices. Di sini, setiap layanan memiliki database terpisah untuk mencegah single point of failure, maka dari itu nan—”
“Kamu masih saja bodoh! Sia-sia kuliah di MIT kalau otakmu sekarang setumpul ini! Berapa kali harus kukatakan logikamu salah kaprah!”
Sama seperti kemarin, Severian terus membantah setiap kalimatku. Ia sengaja mencari celah kecil, menanyakan protokol keamanan yang sudah jelas-jelas aku jelaskan, dan terus memojokkan logikaku. Debat teknis kami berlangsung sengit selama hampir setengah jam.
"Aku masih tidak puas," desis Severian di akhir presentasi. "Aku akan meminta pada Sir Arthur agar mulai besok, kamu datang ke kantorku setiap pagi hingga siang. Kamu harus menyusun program ini di bawah pengawasanku langsung sampai aku yakin tidak ada sampah di dalamnya."
Aku membelalakkan mata. "Apa? Aku menolak! Aku punya pekerjaan di kantorku sendiri, dan aku tidak bisa datang ke sini setiap hari hanya untuk dihina olehmu!"
Severian berjalan mendekat, menyudutkanku di tepi meja presentasi. "Kalau kamu menolak, aku akan membuat perusahaan Sir Arthur bangkrut besok pagi.”
“Haaah? Kamu gila! Salah apa dia denganmu hingga kamu mau membuatnya bangkrut?” Aku terengah dan melotot.
Dia justru terkekeh dingin, “Kamu pikir aku peduli dengannya? Coba saja tolak dan liat akibatnya!”
“Aku juga akan memastikan pemilik The Velum memecatmu, sehingga kamu tidak punya sepeser uang pun untuk hidup. Apalagi kekasihmu itu sepertinya benar-benar sudah jatuh miskin sampai membiarkanmu bekerja di dua tempat sekaligus."
Ia lalu menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuat kulitku merinding dan jantung berdetak kencang. Bersama sorot nakalnya, ia berbisik di depan wajahku.
"Atau, aku bisa membatalkan semua ancaman itu kalau kamu mau naik ke atas meja ini sekarang juga. Buka celanamu, dan rentangkan kakimu untukku."
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan yang kedap suara. Tanganku terasa panas, dan wajah Severian tertoleh ke samping dengan bekas merah yang nyata di pipinya.
"Aku bukan p*****r!" jeritku dengan air mata yang mulai menggenang. "Jangan pernah memperlakukanku seperti sampah hanya karena kamu punya uang!"
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita cantik dengan gaun desainer ternama masuk dengan langkah anggun. Aku terkesiap saat mengenali wajahnya.
Agnes Ma. Putri konglomerat pemilik jaringan rumah sakit terbesar di New York, dan … dia adalah sahabat baikku sejak masa kuliah. Saking dekatnya hingga kami merasa sudah seperti saudara kandung.
"Ada apa ini? Aku mendengar suara dari luar ada yang ...." Agnes menghentikan kalimatnya saat melihatku berdiri di sana dengan wajah terperangah.
"Ivy?" Agnes tampak sangat terkejut. "Ivy Ruo? Kamu … kamu kembali?"
Wanita cantik itu segera masuk dan mendekat, tapi bukannya menyapaku dengan hangat seperti dulu, ia justru langsung memeluk lengan Severian dengan mesra. Ia mengusap pipi Severian yang memerah akibat tamparanku tadi.
“Kenapa pipimu memerah?” tanya Agnes.
Severian diam, hanya memandangku tajam dengan napas memburu.
"Kenapa kamu ada di sini, Ivy? Dan apa yang baru saja kamu lakukan pada … calon tunanganku?" tanya Agnes dengan nada yang tidak lagi ramah, melainkan penuh kecurigaan.
Aku mematung. Jantungku serasa berhenti berdetak melihat pemandangan itu. Kenapa Agnes bisa semesra ini dengan Severian? Dan apa tadi katanya?
Calon tunangan?
Agnes kemudian menatapku dengan tawa kecil yang terdengar sangat perih di telingaku. "Kemunculanmu sangat pas, Ivy. Tiga bulan lagi, aku dan Severian akan melangsungkan acara pertunangan resmi kami.”
“Please, kamu harus datang, ya? Sebagai teman lama yang sudah menghilang tanpa kabar. Datanglah dan saksikan kebahagiaan kami.”
Aku menatap mereka berdua dengan perasaan hancur yang tak tergambarkan. Sahabatku dan mantan kekasihku ... mereka akan bertunangan?