Ch.06 Karyawan Sedot Debu

1512 Kata
Tunangan? Dadaku sesak. Tangan ini gemetar hebat sampai harus kugenggam erat agar tidak terlihat. “Ka-kalian … kalian sekarang bertunangan?” Dan aku tanpa terniati mengucap pertanyaan itu saking kagetnya. Agnes memeluk lengan Severian dengan posesif, matanya menatapku penuh kemenangan. "Oh ya, kamu belum tahu, Ivy? Aku dan Severian akan segera bertunangan. Dua minggu lagi." “Sayang, jangan lupa nanti malam kedua keluarga kita akan bertemu. Kita akan membahas konsep pesta pertunangan dan siapa saja yang diundang,” lanjutnya sambil kian memamerkan kemesraan dan bergelayut manja di lengan kekar sang CEO. Severian hanya diam. Tatapannya padaku dingin, kosong, tidak ada sedikit pun kehangatan yang dulu selalu membuatku merasa aman. Kami saling tatap dengan kalimat yang tak bisa dilukis oleh kata-kata. Keheningan merayap selama beberapa detik di antara kami bertiga sebelum Agnes memecahnya dengan bertanya dengan nada mengejek, “Mau apa mantanmu yang b******k ini di sini, Sayang? Setelah dulu dia pergi begitu saja dengan lelaki lain, apa yang dia lakukan di sini?” Severian akhirnya angkat bicara, suaranya datar. "Perusahaanku sedang bekerja sama dengan perusahaan tempat Ivy bekerja.” “Aku sedang mengkoreksi pekerjaannya yang tidak ubahnya seperti anak kuliah IT tingkat pertama." Seringai Severian muncul bersama ejekan yang jelas. Kata-katanya menyakitkan, karena sebenarnya aku pun tahu tidak ada yang salah dengan pekerjaanku. Dulu, Severian selalu memuji kemampuanku. Bahkan, dia yang mengajarkanku banyak hal tentang programming saat kuliah. "Tapi, kamu jangan khawatir, Agnes. Karena presentasinya sudah selesai," lanjut Severian sambil menatapku dengan seringai malas. "Ivy tahu apa yang harus dia lakukan agar bisa memenuhi standar yang aku inginkan dan … tidak kehilangan pekerjaan." Aku tertegun. Cara dia mengucapkan kalimat terakhir itu terdengar seperti ancaman. Seringainya yang kejam membuat jelas bahwa dia menikmati posisiku yang sekarang berada di bawahnya. "Aku paham," jawabku pelan, menahan getaran di suara. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Dan … selamat untuk pertunangan kalian, semoga berbahagia selalu." Aku membungkuk sedikit, lalu berbalik hendak keluar. Setiap langkah yang kukayuh seperti sedang melintasi gelontoran air, sangat berat dan sulit. Bukan karena fisikku lemah, tetapi karena hati ini terlalu sakit melihat lelaki yang dulu begitu mencintaiku sekarang menatapku dengan kebencian murni. Dan yang lebih menyakitkan lagi, sahabat terbaikku sekarang berdiri di sampingnya sebagai calon tunangan. Bagaimana mereka bisa saling cinta hingga menjadi tunangan pun aku tak paham, tak pernah menyangka. *** Aku baru saja keluar dari gedung LycenTech saat seseorang mengejar dari belakang. "Ivy! Tunggu!" Aku berhenti, berbalik menghadap mantan sahabatku tersebut. Wanita itu berdiri dengan napas sedikit terengah, tatapannya penuh dengan sesuatu yang tidak bisa kumengerti dengan jelas. Kemenangan? Kepuasan? Atau mungkin ... rasa bersalah yang coba disembunyikan? Tidak, kalau rasa bersalah sepertinya tidak. Justru yang aku lihat sekarang seperti bara kebencian mulai membakar jiwanya dengan pelan. "Ada apa?" tanyaku datar, menahan emosi di kerongkongan. Agnes melipat tangannya di depan d**a, lalu tersenyum sombing. "Aku hanya ingin memastikan kamu mengerti situasinya dengan jelas. Aku dan Severian akan bertunangan.” “Jadi tolong, jangan berharap apa-apa lagi kepadanya. Jangan jadi w************n pengganggu rumah tangga orang lain." “w************n?” Aku menatap terbelalak, lalu ada tawa miris yang keluar tanpa bisa kutahan. Lelah. Aku sangat lelah dengan semua ini. "Aku tidak akan pernah jadi pengganggu rumah tangga siapa pun," jawabku sambil menatap tajam ke matanya. "Hanya saja aku tidak menyangka bahwa kamu, Agnes, yang dulu sahabat terbaikku, ternyata punya hasrat terpendam kepada Severian dan langsung beraksi setelah aku pergi." Agnes mengepalkan tangan, wajahnya memerah. “Beraksi apa? Kamu dan Severian sudah tidak ada hubungan. Bukan salahku kalau kemudian dia menjatuhkan cintanya padaku!” “Dan kalau kamu berusaha menggodanya, berarti kamu memang w************n! Toh, kamu dulu pergi dengan lelaki lain saat dia koma, ‘kan? Memang kamu murahan!” Ingin kutampar mulutnya itu, tetapi apa gunanya? No, aku tidak perlu membuat keributan dengannya. Aku juga sudah tidak peduli Severian dan dia mau berbuat apa. Mereka mau pergi ke Planet Mars sekalipun terserah! "Silakan kamu nikmati bekasku," pungkasku dengan senyum mengejek. "APA KAMU BILANG?!" Agnes berteriak, wajahnya merah padam. "Aku menikmati bekasmu? Kamu pikir kamu siapa!" "Aku hanya mengatakan kenyataan, Agnes. Mungkin kamu lupa bahwa dulu setiap malam Severian ada di ranjangku?” Suara tawaku dengan sengaja kubuat semakin menjengkelkan supaya dia semakin marah. "You b***h!" Agnes melangkah mendekat, jarinya menunjuk ke arahku. "Sejak awal aku yang putri konglomerat rumah sakit mau berteman dengan kamu, seharusnya kamu merasa bangga dan bersyukur!” “Kamu hanya gadis miskin yang tidak punya apa-apa. Tanpa aku, kamu tidak akan pernah masuk ke lingkaran kami!" Kata-katanya cukup menyakitkan. Dulu, aku pikir persahabatan kami tulus. Ternyata, sejak awal Agnes sudah memandangku rendah. Lalu, buat apa dia bersahabat denganku? Aku sudah terlalu lelah untuk berdebat. Saat melihat taksi melintas, aku langsung mengangkat tangan memanggilnya. Taksi itu berhenti. Aku membuka pintu, tapi sebelum masuk, aku menatap Agnes untuk terakhir kalinya. "Tolong sampaikan kepada Severian untuk melupakan masa lalu denganku. Dan aku mengucapkan selamat atas pertunangan kalian. Semoga acara lancar hingga pernikahan." *** Aku masuk ke dalam taksi dan menutup pintu. Tidak menoleh lagi ke arah Agnes yang masih berdiri di sana dengan wajah memerah. Taksi melaju. Aku menyandarkan kepala ke jendela, menatap jalanan New York yang ramai. Air mata turun perlahan. Harus aku akui, hati ini sakit sekali. Melihat sahabat yang dulu aku kira benar-benar menyayangiku ternyata sekarang sudah menjadi tunangan Severian. Dan bahkan tega menyebutku w************n. Aku ingat bagaimana dulu kami bertiga selalu bersama. Severian, aku, dan Agnes. Kami tertawa bersama, belajar bersama, melewati masa-masa sulit kuliah bersama-sama. Ternyata di balik tawa itu, Agnes menyimpan perasaan kepada Severian. Dan mungkin, dia juga menyimpan kebencian kepadaku. 'Semoga kalian bahagia,' batinku sambil mengusap air mata yang terus mengalir. *** Agnes kembali ke kantor Severian. Dia membuka pintu perlahan dan melihat calon tunangannya itu duduk di kursi dengan kepala bersandar, mata menutup, seperti sedang menahan emosi. "Severian? Sayang … bisakah kita bicara?" Severian membuka mata, tatapannya kosong. Agnes langsung merasa gelisah. Takut Severian masih memiliki perasaan kepada Ivy. Takut semua rencana yang sudah dia susun sejak tujuh tahun akan hancur. Agnes menghampiri, memeluk pria itu dari belakang kursi, mencium pipinya. "Kamu baik-baik saja?" "Aku sibuk," jawab Severian datar. Agnes memutar kursi itu agar menghadap ke arahnya. Dia mencoba mencium bibir Severian, tetapi lelaki itu langsung berpaling, menolaknya. "Aku bilang, aku sibuk. Tidakkah kamu mendengarnya?" Agnes menggigit bibir. Dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak boleh membiarkan Severian terus memikirkan Ivy. "Sev, kamu ingat tidak?" Agnes duduk di pangkuan Severian, memaksa lelaki itu menatapnya. "Apa kamu ingat betapa menderitanya kamu dulu saat koma karena gagal ginjal? Ivy meninggalkanmu begitu saja. Pergi dengan lelaki lain. Berkhianat saat kamu paling membutuhkannya." Severian menatap Agnes, napasnya menderu bersama d**a kembang kempis. “Apa maumu dengan membawa ingatan itu kembali?” "Aku hanya ingin kamu ingat, bahwa akulah yang tidak tega melihatmu terus menderita," lanjut Agnes sambil mengelus wajah kekasihnya. Ia tersenyum lirih, "Aku yang memutuskan mendonorkan ginjalku untukmu. Aku yang menyelamatkan hidupmu, bukan Ivy. Dia hanya tahu bagaimana cara meninggalkanmu di saat paling sulit." Severian diam cukup lama. Lalu, tangannya terangkat, balas mengelus pipi Agnes. "Aku tidak akan pernah melupakan jasamu. Kamu sudah memberikan donor ginjal untukku. Kamu menyelamatkan hidupku. Aku tidak akan pernah melupakannya.” Agnes tersenyum lebar. Hatinya berbunga mendengar kata-kata Severian. Lalu, dalam hati dia berucap lirih, 'Aku sudah menunggu tujuh tahun agar kamu mau mengikat hubungan denganku.’ ‘Aku tidak akan membiarkan Ivy Ruo datang kembali merebut kamu dariku,' ucapnya di dalam hati sambil memeluk Severian erat. Tuan Muda Xu membalas pelukan itu, tetapi matanya menatap kosong ke arah jendela. Di benaknya, wajah Ivy yang marah dan menangis terus berputar. *** Keesokan pagi, aku datang ke kantor Severian dengan perasaan berat. Tadi malam aku hampir tidak bisa tidur. Bayangan Severian dan Agnes terus menghantui. Namun, aku harus tetap profesional. Pekerjaan ini penting. Gaji dari proyek ini akan sangat membantu biaya pengobatan Lucian. Aku mengetuk pintu ruangan Severian. Suaranya yang dingin menyuruhku masuk. "Selamat pagi," sapaku sambil membungkuk sedikit. Severian duduk di kursinya, menatapku dengan ekspresi yang semakin dingin dan tak bersahabat. "Duduk di sana." Dia menunjuk meja di pojok ruangan. Meja presentasi yang sudah disiapkan dengan laptop dan beberapa dokumen. Aku duduk dan mulai membuka laptop, bersiap mengerjakan proyek. Mendadak, Severian tiba-tiba menekan tombol interkom. "Kirimkan vacuum cleaner ke ruanganku sekarang." Aku mengerutkan kening. Vacuum cleaner? Untuk apa? Beberapa menit kemudian, asisten pribadinya masuk sambil membawa vacuum cleaner. Severian berdiri dari kursinya, berjalan menghampiri meja tempatku duduk. "Sebelum kamu mulai bekerja," ucapnya dengan nada dingin. "Bersihkan dulu seluruh karpet di ruangan ini." Aku menatapnya tidak percaya. "Apa?" "Kamu dengar aku dengan jelas, Ivy. Bersihkan seluruh karpet." "Tapi, aku datang untuk mengerjakan proyek, bukan untuk menjadi pela—" "Ini bagian dari pekerjaanmu!" potong Severian. "Atau kamu mau aku telepon Sir Arthur dan bilang kamu menolak instruksiku? Kamu tahu apa artinya itu untuk karirmu?" “Artinya … kamu akan dipecat!” kekeh sang CEO dengan kejam dan puas karena berhasil mengintimidasi. Aku terdiam. Tanganku mengepal erat di atas paha. Severian tersenyum sinis. "Aku tunggu keputusanmu. Atau kamu mau pulang sekarang dan kehilangan pekerjaan?" “Jadi pelayanku di ruangan ini, sedot semua debu di karpet, atau pulang dan bersiaplah jadi pengangguran!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN