Kebencian Severian padaku sepertinya sudah mendarah daging. Dia selalu mengancam akan membuatku kehilangan pekerjaan, dan sialnya kedua pekerjaanku saat ini memang berada di dalam kendalinya.
Perlahan, aku berdiri. Mengambil vacuum cleaner di tepi meja. “Fine! Aku akan bersihkan ruanganmu sekarang.”
Lelaki itu kembali duduk di kursinya, menyalakan laptop, seolah akan menyaksikan sebuah adegan yang menyenangkan.
Aku mulai membersihkan karpet. Suara vacuum cleaner memenuhi ruangan. Setiap gerakan terasa merendahkan martabatku, tetapi tidak apa. Aku hanya terus membayangkan wajah Lucian serta berbagai tagihan biaya rumah sakit.
‘Kalau aku memainkan permainan ini, dia juga akan bosan terus menyiksaku. Dia lama-lama pasti akan setuju untuk menanda tangani kontrak.’
'Ini balasanmu untukku, Sev? Karena kamu pikir aku mengkhianatimu tujuh tahun lalu?' engahku di dalam hati sambil terus bekerja. ‘Semoga suatu hari Tuhan membuatmu sadar bahwa aku tidak bersalah.’
Air mata hampir tumpah, tetapi aku menahannya. Aku tidak akan menangis di depannya. Tidak akan memberikan kepuasan itu kepadanya. Memang ini yang dia inginkan, melihatku hancur, bukan?
Setelah selesai, aku mematikan vacuum cleaner. Severian menatapku, lalu menunjuk mejanya.
"Sekarang bersihkan mejaku. Lap sampai bersih."
Aku hanya mengangguk. Mengambil lap dan mulai membersihkan meja kerjanya.
Severian duduk sambil terus menatapku. Matanya tajam, penuh dendam. "Dulu kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja, ya?" bisiknya tiba-tiba. "Kamu berkhianat di saat aku hampir mati. Sekarang, kamu akan merasakan apa rasanya berada di bawah kakiku, Ivy."
Aku berhenti sejenak, menatap matanya. "Aku tidak pernah ingin meninggalkanmu."
“f*****g liar!” bentaknya menggebrak meja. “Tidak usah berbohong lagi dengan mulut busukmu itu di depanku!”
Aku kembali membersihkan meja dengan tangan bergetar. Napasku terengah, menahan emosi yang juga mulai naik ke ubun-ubun.
'Kamu tidak akan pernah tahu kebenarannya. Dan mungkin memang lebih baik begitu,' batinku sambil menahan tangis yang siap meledak kapan saja.
Setelah selesai mengelap meja Severian, aku melirik jam dinding. Sudah menjelang jam makan siang. Tubuhku lelah, tetapi aku harus segera mulai bekerja pada proyek yang sebenarnya. Bukan pada proyek pelayan yang dia lakukan ini.
Aku berjalan ke wastafel kecil di sudut ruangan, mencuci tangan sampai bersih. Air dingin membasuh tanganku yang kotor dan berkeringat. Setelah mengeringkan tangan, aku kembali ke meja dan membuka laptopku.
Namun, begitu layar laptop menyala, Severian tiba-tiba berdiri dari kursinya. Dia mengambil jas yang tergantung di belakang kursi dan memakainya dengan gerakan cepat.
"Aku ada janji makan siang dengan klien," ucapnya tanpa menatapku.
Aku hanya mengangguk, berharap dia segera pergi sehingga aku bisa bekerja dengan tenang.
Namun, harapanku sirna saat Severian berbalik dan menatapku dengan tatapan dingin dan benci yang sudah menjadi ciri khasnya sejak kemarin.
"Sebelum aku pergi, ambilkan semir sepatu di rak belakang mejaku. Lalu, segera semir sepatuku."
Aku membeku.
"Apa?"
"Kamu dengar dengan jelas, Ivy. Semir sepatuku. Sekarang!"
Dadaku sesak. Tangan ini gemetar hebat. Dulu, saat kami masih bersama, Severian yang justru suka diam-diam menyemir sepatuku tanpa aku ketahui.
Aku selalu merasa heran kenapa sepatuku selalu bersih mengkilap, padahal aku jarang membersihkannya. Ternyata Severian yang melakukannya setiap kali dia datang ke apartemenku.
Dan sekarang, dia menyuruhku melakukan hal yang sama. Akan tetapi, bukan dengan rasa cinta, melainkan dengan penghinaan.
Aku berdiri dengan kaki gemetar. Berjalan ke rak di belakang meja Severian. Rak kayu mahoni besar itu penuh dengan berbagai barang. Buku-buku tentang teknologi, beberapa piala penghargaan, foto-foto bersama orang-orang penting, lambang kesuksesannya.
Tanganku meraih semir sepatu yang tersimpan rapi di bagian bawah rak. Dan saat itu, mata melihat sesuatu yang membuat napasku terhenti.
Miniatur Menara Eiffel.
Setinggi sekitar 20 sentimeter, terbuat dari logam berwarna perak mengkilap. Miniatur yang sangat aku kenal.
Kami membelinya bersama saat liburan di Paris sekitar setengah tahun sebelum Severian jatuh sakit.
Waktu itu, kami berdua sangat bahagia. Berjalan-jalan di sepanjang Seine, makan di kafe kecil yang cozy, tertawa bersama tanpa beban, berdansa … berciuman, dan bercinta di hotel dengan panas.
Di sebuah toko suvenir dekat Menara Eiffel, kami membeli dua miniatur yang persis sama. Satu untuk Severian, satu untukku. Sebagai lambang cinta yang akan selalu kami ingat.
"Kita akan kembali ke sini suatu hari nanti," kata Severian waktu itu sambil memelukku di bawah Menara Eiffel yang megah. "Kita akan kembali kemari … untuk bulan madu kita."
Aku tersenyum, memeluknya balik. Ingin memekik dengan niatnya memperistri diriku yang bukan siapa-siapa ini. "Janji?"
"Janji."
Apakah dengan dia menyimpan miniatur ini berarti ... dia masih menyimpan kenangan tentang kami? Berarti … dia masih mencintaiku?
"IVY! APA YANG KAMU LAKUKAN DI SANA?! CEPAT KEMBALI DAN SEMIR SEPATUKU!"
Bentakan Severian membuyarkan lamunanku. Aku cepat mengambil semir sepatu dan berjalan kembali ke tempatnya.
Aku bersimpuh di depannya. Tanganku gemetar saat membuka kaleng semir. Mengambil kain lap, mengoleskan semir ke permukaan sepatu kulit hitam itu.
Setiap usapan terasa seperti menipiskan harga diriku yang terus diinjak. Akan tetapi, aku akan bertahan. Demi Lucian. Demi anakku yang sedang sakit di rumah.
Severian terbahak. Tawa yang penuh ejekan.
"Lihat ini. Ivy Ruo yang dulu begitu santai pergi dariku, mengkhianatiku, sekarang berlutut menyemir sepatuku. Betapa kamu sekarang rela berbuat apa saja demi uang, ya?"
Aku tidak menjawab. Terus menyemir sepatunya sampai mengkilap sempurna.
Setelah selesai dengan sepatu pertama, Severian memajukan kaki satunya. Aku mengulangi proses yang sama. Air mata sudah mulai mengumpul di pelupuk mata, tetapi aku tahan sekuat tenaga.
Tahan … terus tahan, semua ini pasti akan berakhir nantinya.
"Bagus," ucap Severian saat sepatunya sudah bersih mengkilap. "Sekarang dengarkan baik-baik."
Aku mendongak menatapnya dari bawah.
"Aku ingin kamu membuat modifikasi pada API endpoint untuk sistem integrasi database. Tambahkan fungsi middleware untuk validasi token JWT dengan refresh token otomatis.”
“Lalu implementasikan rate limiting untuk mencegah DDoS attack. Dan pastikan error handling-nya menggunakan try-catch block yang proper dengan logging ke Sentry. Itu tahap awal dari proyek kita."
Aku mengangguk pelan. Semua instruksi itu cukup jelas bagiku meski Severian menyampaikannya dengan nada meremehkan. Dan meski … sebenarnya sejak kemarin pun aku sudah melakukannya. Dia saja yang memang cari gara-gara.
"Saat sore aku kembali, kalau aku suka hasilnya, maka aku akan setuju dan menandatangani tahap awal tersebut. Kalau tidak ...." Severian tersenyum sinis. "Kamu tahu sendiri konsekuensinya."
Dia berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.
Begitu pintu tertutup, aku langsung menghapus air mata yang sudah tidak bisa kutahan lagi. Menangis dalam diam selama beberapa menit, melepas semua sakit hati yang menumpuk.
Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk bersedih. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini.
Aku duduk di depan laptop, menarik napas dalam, lalu mulai bekerja. Tanganku bergerak cepat di atas keyboard. Menulis baris demi baris kode dengan fokus penuh.
Aku terus bekerja tanpa henti. Sesekali mataku melirik ke arah rak di belakang meja Severian. Miniatur Menara Eiffel itu masih berdiri di sana, seolah mengejekku dengan kenangan indah yang sudah tidak akan pernah kembali.
***
Jam terus berputar. Aku bahkan lupa makan siang. Yang ada di pikiranku hanya menyelesaikan pekerjaan ini dengan sempurna.
Saat jam menunjukkan pukul lima sore, pintu ruangan terbuka. Severian masuk dengan wajah datar. Dia berjalan langsung ke mejanya, meletakkan tas kerjanya di atas sana.
"Sudah selesai?" tanyanya tanpa menatapku.
"Sudah."
"Tunjukkan."
Aku mengangkat laptopku dan membawanya ke meja Severian. Meletakkan di depannya dan dia mulai memeriksa kode yang sudah aku tulis.
Dalam hati, aku tahu pekerjaanku sempurna. Aku sudah mengerjakan dengan sepenuh hati, memeriksa berkali-kali, memastikan tidak ada error sedikit pun.
Dan dari ekspresi Severian yang saat melihat layar laptop, aku tahu dia juga berpikir sama. Empat tahun kami bersama membuatku cukup bisa mengenali dan hafal berbagai ekspresi raut wajahnya.
'Pekerjaan Ivy sebenarnya selalu sempurna,' batin Severian sambil terus scroll kode yang sudah aku buat. 'Dan apa yang aku lihat sekarang adalah kesempurnaan.'
Tapi Severian tidak mengatakan itu. Dia malah menutup laptop dengan keras, membuat aku tersentak kaget.
"Revisi beberapa bagian," ucapnya dingin.
"Bagian mana?"
"Bagian middleware-nya kurang efisien. Tambahkan caching mechanism. Dan error handling-nya masih bisa diperbaiki. Gunakan custom error class."
Aku menatapnya tidak percaya. Dadaku bergemuruh kencang dan teriakanku sudah di ujung bibir. "Tapi, yang sudah aku kerjakan itu sudah menggunakan best practice. Revisi yang kamu minta sebenarnya sama saja dengan apa yang sudah aku kerjakan!"
Severian tersenyum sinis. "Kalau begitu kerjakan lagi sampai aku puas. Ada masalah? Tidak mau? Silakan pergi!”
"Severian!" Aku tidak tahan lagi. Suaraku meninggi. "Aku tahu kamu sengaja menyiksaku akibat dendam masa lalu! Tapi apa salahku! Aku juga punya alasan kenapa aku pergi waktu itu!"
Nah, aku sudah mulai kelepasan ….
"Alasan, katamu?" Severian berdiri dari kursi, matanya menyala marah.
Mendadak, ia menggeberak meja. "Alasan apa yang bisa membenarkan pengkhianatan?!"
"Bukan pengkhianatan!" bantahku
“Lalu apa namanya kalau bukan pengkhianatan!”
Hening sesaat ….
Severian menatapku dengan mata penuh kebencian. "Kamu pergi dengan lelaki lain saat aku sedang koma! Saat aku berjuang antara hidup dan mati! Kamu malah asyik berduaan dengan lelaki itu! Di mana hati nuranimu!"
"Itu bukan seperti yang kamu kira! Aku pergi karena a—"
"Foto-foto kalian berciuman sudah cukup jadi bukti, Ivy! Jangan pernah mencoba membohongiku lagi!"
Dan dia kembali menggebrak meja. Sebuah hantaman yang juga membuatku segera sadar untuk menjaga ucapanku. Masa lalu tujuh tahun lalu tidak boleh keluar, atau nyawaku -dan bahkan nyawa Lucian- bisa terancam.
Aku terdiam. Foto-foto itu ... ya, pasti foto yang dibuat oleh pria asing yang menyuruhku pergi waktu itu. Foto yang mungkin dikirimkan ke Severian atau keluarganya untuk membuktikan bahwa aku memang berkhianat.
Severian terkekeh, suaranya terdengar bengis. "Oke,aku akui! Semua ini karena dendam padamu!”
“Memang aku sengaja membuat kamu menderita, Ivy. Supaya kamu bisa merasakan betapa kecewanya aku saat bangun dari koma dan mengetahui kekasihku sudah pergi dengan lelaki lain demi uang. Padahal, aku pun bisa memberikan uang berapa pun yang kamu minta!"
Semua ini merobek hatiku, menyayat terlalu perih. Aku ingin berteriak, memberitahunya kebenaran. Bahwa aku pergi demi dia mendapatkan donor ginjal. Bahwa aku dipaksa pergi oleh seseorang yang mengancam akan membatalkan donor kalau aku tidak pergi.
Tapi aku tidak bisa!
Aku ingat rentetan peluru yang menyerbu mobil waktu itu. Aku ingat bagaimana pria asing di sebelahku mati dengan kepala meledak. Aku ingat bagaimana aku hampir mati tenggelam di sungai.
Kalau aku bilang kebenaran sekarang, apa yang akan terjadi?
Apa orang yang waktu itu menyuruhku pergi akan kembali mencoba membunuhku? Atau lebih buruk lagi ... bagaimana kalau mereka mencoba menyakiti Lucian?
Aku tidak bisa mengambil resiko itu.
"Aku ...." Suaraku bergetar. "Aku tidak bisa menjelaskan"
"Karena memang tidak ada yang bisa dijelaskan!" bentak Severian. "Kamu hanya p*****r murahan yang mengincar uang!"
Ada jeda sesaat sebelum dia kembali memintaku melakukan sesuatu yang akan membuktikan bahwa aku memang w************n.
"Buka pakaianmu. Buka kakimu di atas mejaku. Satu kali saja bercinta denganku, maka aku akan langsung tanda tangani kerja sama ini secara penuh. Kamu bisa menikmati semua bonus yang akan diberikan oleh Sir Arthur."
"Aku bukan w************n!" teriakku dengan serak, air mata terus mengalir. "Aku bukan seperti yang kamu pikirkan, Severian! Aku bukan wanita seperti itu!"
Aku mundur beberapa langkah, tubuh gemetar hebat. Ingin sekali aku kembali menamparnya, tetapi tangan ini kaku tak bisa bergerak. Entah karena terlalu lelah menyedot karpet, mengelap meja, dan mengetik seharian … atau karena memang aku sudah tak sanggup lagi melawannya.
"Seandainya saja kamu tahu! Seandainya saja kamu tahu kenapa aku sangat butuh uang!"
"Kenapa?" tanya Severian dengan nada mengejek. "Untuk beli tas branded? Untuk berlibur ke tempat-tempat mewah? Untuk pesta dengan lelaki-lelaki lain?"
"UNTUK ANAK KITA!
….
Kata-kata itu hampir meluncur dari mulutku.
Hampir.
Tetapi aku menahannya di detik terakhir. Kata-kata itu hanya berteriak dan menggema di dalam kepalaku saja. Dia tidak akan mendengarnya.
Aku tidak bisa bilang tentang Lucian. Aku tidak bisa bilang bahwa aku punya anak dari Severian. Anak yang sekarang sedang berjuang melawan penyakit ginjal yang sama seperti yang dulu dialami ayahnya.
Severian menatapku dengan mata menyipit. "Untuk apa, Ivy? Katakan!"
Aku menggeleng, menghapus air mata dengan punggung tangan. Lebih baik diam.
"Karena memang tidak ada alasan yang bisa membenarkan pengkhianatanmu!" desis Tuan Muda Xu menertawakanku. “God! Aku sungguh membencimu!”
"Kalau begitu lupakan semua dan lepaskan aku! Kamu sudah punya tunangan! Untuk apa terus marah denganku! Kenapa kamu tidak berbahagia saja dengan Agnes!” teriakku putus asa, terisak. “Aku mohon, lepaskan aku dan hentikan semua ini!”
"Tidak akan!" Severian menarik tanganku kasar, membuat aku tersandung saat maju mendadak ke arahnya. "Kamu tidak akan pergi kemana-mana sampai aku puas membuatmu menderita!"
Kami berdiri sangat dekat. Napasku memburu, begitu juga dengan napasnya. Air mata masih mengalir di pipiku dan dia menikmati setiap tetesnya.
Severian menyeringai, kian mendekatkan bibirnya ke bibirku. Apa dia sudah gila? Dia ingin menciumku?
“Aku penasaran apa rasa bibirmu masih semanis dulu?” desinya.
Dan tepat di detik itu, pintu ruangan terbuka.
“Severian, Sayang! Aku membawakan minuman segar kesukaanmu!”
Agnes Ma memasuki ruangan dan ….