Lyra masih terduduk di belakang pintu dengan posisi memeluk lututnya sendiri. Air matanya sudah kering sejak setengah jam yang lalu. Saat ini Lyra tengah memikirkan cara bagaimana caranya keluar dari tempat ini dengan selamat. Apa sebaiknya Lyra memohon dan meminta maaf kepada Dewangga dengan bersujud agar Dewangga mau melepaskannya dari kamar ini? Siapa tahu dengan begitu Dewangga akan melunak. Lalu, Lyra hanya tinggal menunggu kesempatan saja untuk kabur. Lyra menganggukkan kepala. Benar. Seperti itu. Namun, tiba-tiba saja Lyra merasa jika kali ini Dewangga akan lebih susah diluluhkan. Kemarahan yang terpancar pada sorot mata Dewangga begitu menakutkan. Dewangga terlihat sudah bertekad untuk tidak memberi Lyra keleluasaan lagi seperti sebelumnya. Jadi, sepertinya memohon sambil ber

