Rasa sesak itu kembali melanda begitu ia membuka mata. Ayya menarik napasnya panjang dan air mata kembali membasahi wajahnya memikirkan jika semua yang ia alami kemarin bukanlah mimpi. Dirinya menyadari kini berada dalam dekapan Fares, membuat dia merapatkan pelukannya pada Fares dan bersandar di sana berusaha untuk meredam isak tangisnya juga mengendalikan rasa sakit yang seolah bisa membunuhnya karena kenyataan itu. Namun, nyatanya Ayya yang berusaha untuk menahan isak tangisnya tetap saja membuat Fares terjaga, kekhawatiran seketika menyelimuti Fares, pria itu berusaha meregangkan pelukannya, namun Ayya justru semakin mengeratkan pelukannya, dan tidak lagi bisa menahan isakannya saat mendengar nada suara Fares yang begitu lembut dan menenangkan. “Yya, what’s going on?” Fares berbisik