Malam semakin dalam ketika Max tiba di gudang yang sudah lama ditinggalkannya. Tempat yang pernah menjadi saksi bisu akan transformasinya dari Rafael yang rapuh menjadi Max yang dingin dan kejam. Udara malam terasa menusuk, tapi tidak sedingin kenangan yang kembali menyeruak di benaknya. Max berdiri di tengah ruangan kosong, menatap ke sekeliling dengan tatapan yang dalam dan penuh luka. Dinding-dinding beton yang retak, lantai yang dipenuhi noda darah lama, dan sudut-sudut gelap yang pernah menjadi tempat persembunyiannya ketika rasa sakit fisik dan mental menyatu menjadi satu. Di sinilah dia digempur selama tujuh tahun terakhir. Di sinilah Rafael yang lemah dan penuh harapan perlahan mati, digantikan oleh Max yang tidak mengenal ampun. Setiap pukulan, setiap ancaman, setiap malam yang

