Di sebuah gudang tua yang dijadikan markas oleh Lucas, Jody terbaring di kasur tipis dengan tubuh yang masih dipenuhi perban. Luka yang ada di pergelangan kakinya sudah mulai mengering, tetapi rasa sakitnya masih menusuk setiap kali ia bergerak. Tidak ada perawat, tidak ada dokter yang datang rutin, hanya botol-botol obat pereda nyeri yang Lucas berikan sesekali. Jody menatap langit-langit gudang yang berkarat, mendengar suara tikus yang berlarian di antara tumpukan kardus bekas. Perutnya keroncongan, tapi ia tahu Lucas tidak akan memberikan makanan sampai sore nanti. Pria itu selalu datang dengan ekspresi datar, memberikan roti kering dan air putih, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. "Aku harus bertahan," bisik Jody pada dirinya sendiri. Tangannya yang tidak terluka meraba-raba kantong

