Malam Jakarta terasa dingin dan sunyi. Di sebuah rumah tua yang telah lama kosong, Nadine memeluk tubuh Jody yang hampir tak bernyawa. Darah masih mengucur dari luka-luka di tubuh putranya, membasahi pakaiannya yang sudah compang-camping. Air matanya mengalir tanpa henti, hatinya hancur melihat kondisi anak yang sangat dicintainya. "Jody... bertahanlah, Nak..." bisiknya sambil menekan luka di d**a putranya dengan saputangan yang sudah merah basah. "Ibu tidak akan membiarkanmu mati." Nadine tahu ia harus mencari bantuan, tapi ke mana? Tidak ada yang tersisa dari kehidupannya yang dulu mewah. Semua telah hancur dalam sekejap. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku celana Jody, mencari ponsel. Syukurlah masih ada daya. Dengan jari-jari yang bergetar, Nadine menghubungi satu-satunya orang y

