Bab 61. Sebuah Pengakuan

1094 Kata

Malam itu langit Jakarta kembali menumpahkan hujan seperti tumpahan dendam yang tak pernah kering. Lampu jalan memantulkan garis-garis tipis di aspal; udara lembab membawa aroma bensin dan besi yang hangat — bau kota yang telah menenggelamkan terlalu banyak nyawa. Di halaman belakang markas Fernandez, Alesha berdiri di bawah sinar kabur sebuah lampu sorot, jas hujan tipis menempel di tubuhnya. Di balik ketenangan wajahnya, jantungnya berdegup seperti genderang perang. Fernandez memberinya perintah dengan cara yang selalu sama: dingin, ringkas, tanpa ruang untuk pembenaran. "Pergi. Selesaikan ini sendiri. Max harus jatuh, dan ia harus merasakan setiap detik penderitaan yang pernah kurasakan." Alesha mengangguk. Kata-kata itu keluar dari mulutnya seperti janji yang dipalu oleh kebencian ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN