Alesha menatap Max dengan mata yang berkaca-kaca, napasnya masih tersenggal karena pertarungan yang baru saja mereka lalui. Hujan di luar gedung parkir semakin deras, seolah langit Jakarta ikut menangis menyaksikan pertemuan dua jiwa yang terluka. "Kenapa aku mencintaimu?" Alesha mengulang pertanyaan Max dengan suara yang bergetar. "Karena aku melihat siapa dirimu yang sebenarnya, Max. Di balik semua kebengisan dan dendam yang Fernandez tanamkan dalam dirimu, aku melihat Rafael yang terluka." Max mundur selangkah, matanya mencari-cari kebohongan di wajah Alesha, tetapi yang ia temukan hanyalah kejujuran. "Kau tidak mengerti apa yang kau katakan," bisiknya. "Aku sudah bukan Rafael lagi. Aku adalah Max, pembunuh yang diciptakan oleh kebencian." "Tidak," Alesha menggeleng keras. "Aku menge

