Max menarik tangan Alesha, menembus gelap yang makin pekat. Suara retakan beton bercampur dengan deru napas mereka. Setiap detik, ancaman maut terasa makin dekat. Dari balik tiang-tiang beton, terdengar suara langkah berat. Empat pria bersenjata muncul, bayangan mereka menelan cahaya redup lampu darurat. Senapan diarahkan lurus ke kepala Max dan Alesha. “Fernandez sudah menduganya,” salah satu pria itu berkata dengan senyum dingin. “Kalian takkan keluar hidup-hidup dari sini.” Alesha menyeringai getir, pisau lipatnya sudah siap di tangan. “Dia selalu mengira dirinya dewa.” Pertempuran pecah. Max melompat, menendang senjata musuh pertama, merebutnya lalu menembak dua orang sekaligus. Alesha bergerak cepat, menebas urat leher lawan dengan gerakan presisi. Darah memercik, tubuh-tubuh tumb

