Max melanjutkan tawanya saat ia menatap layar ponselnya yang baru saja mati. Suara tawa itu bergema di ruangan gelap, menciptakan aura yang mengerikan. "Dasar bodoh!" gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Bahkan orang paling bodoh pun tahu jika mayat tidak akan berada di sana selama itu." Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke kegelapan malam. Tangannya mengetuk-ngetuk kaca dengan ritme yang tidak beraturan, seolah sedang merencanakan sesuatu yang jahat. "Carilah mayatku sampai mata kalian buta!" bisiknya dengan nada yang penuh kepuasan. Max tahu persis apa yang sedang terjadi. Permainan yang telah ia rancang dengan sempurna kini mulai berjalan sesuai rencananya. "Dani Anggara, Maxime Leonard akan membuka matamu yang buta!" gumam Max dengan rahang yan

