Alesha menutup pintu ruang kerjanya dengan hati-hati, memastikan jika tidak ada satu orang pun yang mengikutinya. Ruangan yang biasanya rapi kini terasa sesak dengan beban pikiran yang menumpuk. Ia melepas jas dokternya yang masih berbau antiseptik dan d a r a h lantas menggantungnya di kursi. Kepala finance rumah sakit yang bernama Martin, berdiri canggung di tengah ruangan. Pria paruh baya itu sudah bekerja di rumah sakit ini selama sepuluh tahun, cukup lama untuk memahami bahwa keluarga Fernandez memang memiliki dua wajah. Wajah yang terlihat di permukaan, dan yang tersembunyi di baliknya. "Duduklah, Martin," kata Alesha sambil menuangkan segelas air putih untuk dirinya sendiri. "Kita perlu membicarakan beberapa hal." Martin duduk dengan gugup, tangannya bergetar saat membuka map ber

