Pagi itu, Jody terbangun dengan rasa sakit yang masih menusuk di sekitar pergelangan kakinya. Ia melirik jam dinding, tepat pukul 7:00 pagi. Biasanya pada jam ini ia sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi kondisi kakinya yang masih bengkak membuatnya ragu. Namun, keraguan itu segera sirna ketika ia teringat pada Max Leonard yang kini menggantikan posisinya di Anggara Putra Corporation. Bayangan Max yang bebas mengakses seluruh file dan dokumen perusahaannya membuat jantung Jody berdebar cemas. "Tidak boleh," gumamnya sambil memaksakan diri bangkit dari tempat tidur. "Aku harus ke kantor. Tidak boleh membiarkan dia mengacak-acak semuanya." Dengan susah payah, Jody berpakaian dan turun ke lantai bawah. Setiap langkah terasa menyiksa, tapi ia terus memaksakan diri. Ketika sampai di

