"Tidak!" Max segera menoleh tajam pada Romi. "Bagaimana aku bisa berhetni?" Kekehan kecil pun terdengar dari Romi. "Aku hanya menyuruhmu berhenti, bukan untuk m a t i." "Aku bertahan saat itu hanya untuk bisa maju. Dan sekarang kamu justru menyuruhku berhenti. Di mana otakmu, Rom?!" Romi menghisap rokoknya dalam-dalam, menahan asap di paru-parunya sejenak sebelum menghembuskannya perlahan. Matanya menatap Max yang berdiri kaku di tengah ruangan, wajahnya memerah karena amarah. "Di mana otakmu, Rom?!" suara Max masih bergema di ruangan mewah itu. Selama beberapa detik, hanya suara detik jam dinding yang mengisi keheningan. Romi tidak langsung menjawab. Pikirannya melayang ke masa itu. Tujuh tahun yang lalu ketika ia pertama kali melihat pria di hadapannya ini terbaring sekarat di jalan

