Nadine bangkit dengan perlahan dengan tangan yang masih bergetar. Air mata mengalir deras di pipinya ketika ia memeluk Jody dengan erat. "Ayo, Mama antarkan kamu sampai depan," bisik Nadine lembut sambil membantu Jody untuk berdiri. Tubuh Jody terasa berat, seakan seluruh beban dunia tengah menimpa pundaknya saat ini. Mereka berdua mulai berjalan menuju pintu dengan langkah gontai. Nadine masih terisak, tangannya sama sekali tidak lepas dari pundak anak yang selalu bela tersebut. "BERHENTI!" Suara Dani menggelegar, membuat kedua langkah mereka terhenti seketika. "Nadine! Lepaskan tanganmu dan jangan berani-berani kamu mengantarkannya!" bentak Dani dengan mata menyala. "Biarkan dia pergi sendiri!" Nadine menoleh tajam pada suaminya. "Dani, dia anakku!" sentak Nadine dengan suara berg

