Di rumahnya yang mewah, Dani Anggara masih terlelap di kursi kerjanya yang berbahan kulit berkualitas tinggi. Lampu meja masih menyala terang, menerangi tumpukan dokumen kontrak yang berserakan di atas mejanya. Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 ketika matanya perlahan terbuka. "Ugh ..." Dani mengucek matanya yang masih mengantuk, lehernya terasa kaku setelah tertidur dalam posisi yang tidak nyaman selama berjam-jam. Ia melirik jam dinding dan tersentak. "Sudah jam sepuluh malam?" gumamnya sambil bangkit dari kursi. "Sial, aku ketiduran." Dani merapikan kemejanya yang kusut dan mematikan lampu meja kerjanya. Kakinya terasa pegal saat ia berjalan keluar dari ruang kerja menuju tangga yang mengarah ke lantai atas. Biasanya pada jam segini Nadine sudah tidur. Namun, begitu ia membuka pin

