73: Pembalasan Dendam

1888 Kata

"Eungh..." Debora melenguh pelan, terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum tersentak, secara insting ia tanpa sadar beranjak menuju box bayi anak-anaknya dan begitu melihat kedua anaknya yang masih terlelap seketika ia tersenyum lega. Debora menunduk, mengelus wajah mungil bayinya yang hanya seukuran telapak tangannya, lucu sekali. Grep. "Pagi." Sapa sebuah suara serak khas bangun tidur. Debora spontan tersenyum samar melihat suaminya yang selalu romantis seperti biasanya. Ia membalik badan, membalas memeluk leher Erik. "Kamu gak kerja? Tumben gak bangun pagi." "Suami gila mana yang bekerja meninggalkan istrinya yang baru melahirkan." Mendengar hal itu sungguh membuat bagaikan ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya, "jadi kamu mau temeni aku seharian ini." Bisi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN