Bab 1. Menikahi lelaki kasar
Disinilah Sienna berada.
Berdiri di samping lelaki yang hari ini akan menjadi suaminya.
Hari yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan seseorang, tetapi bagi Sienna justru terasa seperti akhir dari segala sesuatu yang pernah ia harapkan dalam hidup.
Pernikahan.
Hari ini, Sienna dan Garran akan menikah.
Gaun putih yang melekat di tubuhnya tampak indah. Rambutnya ditata dengan rapi, wajahnya dipoles sedemikian rupa hingga nyaris tidak menyisakan jejak perempuan yang semalam menangis sendirian di kamar. Semua orang mungkin akan melihatnya sebagai seorang pengantin yang cantik.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah tenangnya, Sienna sedang berusaha berdamai dengan kenyataan bahwa hidupnya telah mengambil arah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Seharusnya bukan dirinya yang berdiri di samping Garran. Seharusnya Stefi, adik tirinya.
Stefi-lah yang sejak awal dijodohkan dengan Garran, yang seharusnya mengenakan gaun ini, duduk di hadapan penghulu, lalu mengucapkan janji pernikahan dengan lelaki yang kini berdiri beberapa langkah darinya.
Namun Stefi melarikan diri.
Tidak ada surat panjang atau penjelasan, Ia hanya pergi meninggalkan keluarga dan pernikahan yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa.
Sienna tahu alasan di balik kepergian adiknya, ia tahu siapa Garran.
Semua orang mungkin mengenal Garran sebagai lelaki dari keluarga terpandang, memiliki pekerjaan mapan, wajah yang menarik, dan kehidupan yang tampak sempurna dari luar. Tetapi Sienna tahu sisi lain lelaki itu.
Garran memiliki temperamen buruk, mudah marah dan ketika amarahnya mencapai batas, tangannya sering kali lebih cepat daripada pikirannya.
Sienna pernah melihatnya, menyaksikan bagaimana sebuah kemarahan kecil bisa berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Ia tahu mengapa Stefi memilih pergi. Bahkan jika berada di posisi adiknya, mungkin Sienna juga akan melakukan hal yang sama.
Hanya saja, Sienna tidak memiliki kemewahan untuk melarikan diri.
Ia tidak punya tempat untuk pergi, terlebih setelah kecelakaan itu.
Salah satu kakinya kehilangan fungsi setelah kecelakaan beberapa waktu lalu. Sejak saat itu, langkah Sienna tidak lagi sama. Ia harus menggunakan alat bantu dan bergantung pada orang lain untuk melakukan beberapa hal yang dahulu bisa ia lakukan sendiri.
Kecelakaan itu pula yang merenggut banyak hal darinya.
Mimpi, kebebasan dan lelaki yang selama ini ia cintai. Raka.
Sienna masih mengingat hari ketika kecelakaan itu terjadi. Hari ketika ia mempertaruhkan dirinya demi menyelamatkan Raka.
Ia tidak pernah menyesal, setidaknya dulu.
Karena bagaimanapun juga, Raka adalah orang yang paling ia cintai. Namun kehidupan seolah memiliki cara sendiri untuk membalas pengorbanan seseorang.
Raka selamat, Sienna tidak dan setelah semuanya berakhir, Raka justru melanjutkan hidup bersama perempuan yang dicintainya.
Naura.
Sekarang Raka sudah menikah dengan Naura.
Sementara Sienna berdiri di sini, mengenakan gaun pengantin yang bahkan bukan seharusnya miliknya.
Ironis.
Ia pernah berpikir bahwa jika suatu hari menikah, lelaki yang berdiri di sampingnya adalah Raka.
Ia pernah membayangkan dirinya mengenakan gaun putih, berjalan menuju lelaki yang dicintainya, lalu menjalani kehidupan sederhana bersama orang tersebut.
Namun semua itu hanya menjadi angan-angan.
Raka mendapatkan kebahagiaannya dan Sienna mendapatkan Garran.
Tatapan Sienna jatuh pada tangan yang sejak tadi menggenggam alat bantu jalannya.
Jemarinya sedikit bergetar, bukan karena gugup menghadapi pernikahan, melainkan karena takut.
Sienna takut dengan kehidupan setelah hari ini.
Takut pada malam-malam yang akan ia lalui bersama lelaki yang tidak pernah ia cintai.
Takut pada amarah Garran, pada kemungkinan bahwa dirinya akan menjadi korban dari sesuatu yang selama ini ia tahu bisa terjadi.
Namun ketakutan itu tetap tidak membuatnya pergi.
Sebab ke mana ia harus pergi?
Ibunya sudah mengatakan bahwa pernikahan ini adalah jalan terakhir untuk menyelamatkan hubungan kedua keluarga. Stefi telah pergi, dan jika Sienna juga menolak, keluarganya akan menanggung malu yang besar.
Sienna tidak ingin menjadi beban.
Sejak kecelakaan, ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan keluarganya, ia tidak sanggup menambah satu masalah lagi.
Maka ketika ibunya meminta Sienna menggantikan Stefi, perempuan itu hanya diam. Hanya menerima.
Mungkin karena jauh di dalam dirinya, Sienna sudah terlalu lelah untuk melawan takdir.
Ia pernah memperjuangkan cinta dan cinta itu tetap pergi. Ia pernah mempertaruhkan hidup untuk seseorang dan pada akhirnya, seseorang itu hidup bahagia bersama perempuan lain.
Ia pernah berharap kehidupan akan memberikan sesuatu yang indah sebagai gantinya. Namun yang datang justru pernikahan tanpa cinta dengan lelaki yang bahkan membuatnya takut.
Mungkin memang tidak ada takdir baik untuknya.
Sienna menarik napas panjang.
Di sampingnya, Garran berdiri dengan wajah datar. Lelaki itu tidak banyak bicara sejak awal prosesi. Tatapannya sesekali mengarah kepada Sienna, tetapi perempuan itu memilih menundukkan pandangan.
Ia tidak ingin mencari masalah.
Setidaknya untuk hari ini.
Prosesi pernikahan berlangsung dengan khidmat.
Suara orang-orang terdengar samar di telinga Sienna. Ia seperti berada di tempat yang jauh, meskipun tubuhnya berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi keluarga dan kerabat.
Satu per satu kalimat terdengar.
Kemudian tiba saat yang paling menentukan.
Akad.
Sienna menahan napas.
Ia tahu setelah ini tidak ada lagi jalan untuk kembali. Sekali kata itu terucap, statusnya akan berubah. Ia akan menjadi istri Garran.
Perempuan itu memejamkan mata sejenak.
Dalam hati, ia mencoba mengucapkan selamat tinggal kepada semua kehidupan yang pernah ia miliki.
Selamat tinggal kepada perasaan yang selama bertahun-tahun ia simpan, elamat tinggal kepada impian tentang pernikahan yang dipenuhi cinta dan selamat tinggal kepada Sienna yang dahulu.
Ketika suara sah terdengar dengan lantang, ruangan seketika dipenuhi ucapan selamat.
Beberapa orang tersenyum, ada yang mengucapkan doa, ada pula yang terlihat lega karena pernikahan itu akhirnya terlaksana.
Namun Sienna hanya terdiam, tangannya perlahan mengepal di balik kain gaun.
Sah.
Satu kata sederhana yang mengubah seluruh hidupnya. Mulai hari ini, ia adalah istri Garran.