“Apa kamu senang melihatku kehilangan perusahaan?” Tanya Redy dengan wajah serius. Kirana tahu apa yang dia inginkan tidak akan pernah terwujud. Wanita itu tersenyum pahit seraya menatap kedua bola mata Redy. Kirana menyentuh pipinya seraya menatap lekat-lekat tatapan tajam dari bola mata pria itu. “Tentu saja aku tidak akan membiarkannya.” Sahut Kirana dengan suara pelan. “Kirana tahu Om sudah lama merintis perusahaan dari nol, Kirana tahu, maafkan Kirana. Kirana tidak akan membuat Om kehilangan apapun.” Serunya. Kirana menarik diri dari sisi Redy lalu turun dari atas tempat tidur tersebut. Redy mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa membiarkan semuanya berakhir seperti ini. Pria itu segera turun dari ranjang dan mengejar Kirana. “Kirana! Tunggu! Kiran!” panggilnya seraya melangkah leb