Bening tiba di penginapan saat siang hari yang terik. Bangunannya tidak besar, hanya dua lantai dengan cat krem yang sudah mulai kusam. Di depan, ada pohon mangga tua yang daunnya rimbun, menaungi halaman kecil tempat dua motor terparkir. Suasananya tenang, terlalu tenang untuk daerah yang menyimpan cerita panjang tentang kebakaran dan kematian. Ia turun dari taksi dan berdiri sejenak, menatap sekitar. “Terima kasih, Pak,” ucap Bening. “Sama-sama, Mbak,” jawab sang sopir taksi seraya membantu Bening menurunkan kopernya. Setelah mengurus kunci kamar, Bening masuk ke kamarnya. Ia tidak langsung beristirahat. Hanya meletakkan tas, mencuci muka sebentar, lalu kembali keluar. Hari masih terang, dan ia tidak ingin menunggu terlalu lama. Rasa penasaran sudah mendorongnya sejak tadi. Rumah ke

