Hari ini persidangan dimulai. Bening bahkan hadir di persidangan itu. Ia duduk di bangku paling belakang, tangannya terlipat di pangkuan, jemarinya saling mencengkeram begitu erat sampai ruas-ruasnya memutih. Ia datang tanpa riasan, tanpa perhiasan. Hanya dirinya sendiri, utuh dengan semua rasa yang tak sempat ia susun rapi. Di depan sana, Wiratama duduk di kursi terdakwa. Ayahnya. Rambutnya yang dulu selalu rapi kini memutih lebih banyak dari yang Bening ingat. Bahunya terlihat lebih turun, sorot matanya tidak lagi setajam dulu. Namun tetap saja, wajah itu adalah wajah yang membesarkannya, yang dulu menggenggam tangannya ketika ia belajar berjalan. Dan hari ini, wajah itu diadili. “Sidang perkara nomor 187/Pid.B/20- dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.” Ketukan palu hakim meng
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


