“Pa, ini bukan soal tuduhan,” suara Bening bergetar, tapi kali ini tidak naik. “Ini soal kejujuran.” Wiratama berdiri tegak di depan mereka, rahangnya mengeras. “Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk bicara sembarangan, Bening.” “Aku juga tidak pernah diajarkan untuk hidup di atas kebohongan,” balas Bening cepat. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak sendiri. “Cukup,” Banyu akhirnya bersuara. Suaranya tidak keras, tapi cukup membuat keduanya menoleh. “Tolong. Jangan seperti ini.” Wiratama mendengus kecil. “Kamu mempercayai ucapan Bening sekarang, Banyu?” Banyu menatap mertuanya tanpa gentar. “Saya selalu mempercayai istri saya. Dan juga… saya ingin semuanya berhenti sebelum semakin melukai.” Bening menoleh ke Banyu, matanya basah. “Mas—” “Bening,” potong Banyu lembut tapi t

