Malam itu Banyu tidak tidur di kamar bersama Bening, dan ia memilih untuk bermalam di ruang kerjanya. Banyu duduk di sana, dengan kemeja masih sama sejak sore, jas digantung sembarangan di sandaran kursi. Meja kerjanya penuh berkas, tapi tak satu pun benar-benar ia baca. Pandangannya kosong, menembus dinding, seolah ada adegan lama yang diputar ulang tanpa ia minta. Di kamar, Bening berbaring miring, memunggungi pintu. Selimut ditarik sampai d.a.da, tapi dingin tetap menyelinap ke tulang. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang gelap. Tak ada yang saling menyusul. Tak ada yang saling mengetuk pintu. Hanya jarak. Dan malam yang terasa terlalu panjang. Banyu menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap layar ponsel yang sejak tadi mati. Ia sengaja me

