“Belum pulang juga?” gumam Bening pelan. Bening sampai di rumah pukul 19.30 malam. Dan melihat rumahnya masih gelap, tanda bahwa Banyu memang belum juga pulang. Bening menutup pintu dan berjalan kea rah kamarnya. Ia mulai menurunkan kopernya dari atas lemari. Tetapi tangannya sempat berhenti di gagang koper itu. “Sepuluh hari,” ucapnya lirih. “Iya, Cuma sepuluh hari.” Bening mulai melipat pakaiannya, dari kaos, celana, dan beberapa kemeja kerja. Ia melakukannya secara random, kadang rapi, kadang asal, seperti pikirannya sendiri saati ini. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dari arah tas, ponselnya belum ia keluarkan sejak ia sampai di rumah. Kemudian Bening mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya, nama Dita muncul di layer. “Ben, gue denger dari Raka, lo cuti?” sua

