Lady Selina berdiri di depan cermin besar, melepaskan kalungnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Riasan di wajahnya masih sempurna, tapi matanya memantulkan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. Bayangan Gwen tatapan dingin dan kata-kata penuh ancaman terus menghantui pikirannya.
Di sudut ruangan, Citra duduk di tepi ranjang, menyilangkan kaki dengan anggun. Wajahnya cantik, nyaris polos, tapi sorot matanya gelap dan tajam seperti ular yang siap menerkam.
“Dia tidak boleh dibiarkan hidup, Mom,” ucap Citra akhirnya, suaranya tenang, terlalu tenang. “Gwen adalah satu-satunya penghalang kita!!!"
Selina berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan.
“Jangan bicara sembarangan,” katanya rendah. “Dinding di rumah ini punya telinga!!!"
Citra tersenyum miring. “Tidak ada siapa-siapa di sini.” Ia berdiri, melangkah mendekat. “Dan kau tahu aku benar. Selama Gwen masih bernapas, Nicolas tidak akan pernah sepenuhnya milikku. Dan harta Don Lorenzo, tidak akan pernah jatuh ke tangan kita!"
Citra berjalan perlahan. “Dia terlalu tahu banyak. Tentang Mamanya.”
Ia berhenti tepat di depan Selina, menatapnya tanpa berkedip.
“Dan tentang kita.”
Selina memejamkan mata sejenak. Kenangan masa lalu darah, tangisan, keputusan kejam kembali berputar seperti mimpi buruk yang tak pernah benar-benar pergi.
“Kita sudah terlalu jauh untuk mundur,” bisik Selina akhirnya. “Tapi Gwen, dia bukan gadis lemah lagi.”
Citra tertawa kecil, dingin.
“Itu sebabnya dia harus disingkirkan sekarang. Sebelum dia menyerang lebih dulu!"
Selina membuka mata. “Kau ingin membunuhnya?”
Citra tidak ragu sedikit pun.
“Ya! Kita habisi dia seperti kita menghabisi ibunya dulu!"
Selina menatap putrinya lama. Untuk sesaat, ia melihat pantulan dirinya sendiri bertahun-tahun lalu ambisi yang sama, dingin yang sama.
“Jika kita gagal,” kata Selina perlahan, “Don Lorenzo tidak akan melindungi kita.”
Citra menyeringai. “Kita tidak akan gagal. Kita tidak perlu melakukannya sendiri.”
Selina mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Citra melangkah ke meja rias, mengambil ponselnya. Di layar, terpampang satu nama yang membuat Selina terdiam.
Nicolas.
“Kau lupa Mom,” ujar Citra lembut tapi beracun. "Siapa yang paling diuntungkan jika Gwen menghilang?”
Selina terdiam. Napasnya tercekat.
“Jika Gwen mati,” lanjut Citra, matanya berkilat penuh obsesi,
“Nicolas bebas. Harta De Luca tetap aman. Dan Don Lorenzo, tidak akan pernah tahu siapa yang menarik pelatuknya.”
Selina menggenggam sandaran kursi. Logikanya menolak, tapi ambisinya berteriak setuju.
“Ini berbahaya,” gumamnya.
Citra tersenyum manis senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan di depan Don Lorenzo.
“Semua hal besar selalu berbahaya, Mom.”
Ia menekan layar ponsel, menyusun pesan tanpa mengirimkannya dulu.
“Berikan aku waktu,” kata Selina akhirnya, suaranya dingin dan terkontrol. “Aku akan memastikan Don Lorenzo sibuk. Jika kau bergerak, lakukan tanpa jejak!!!"
Citra mengangguk puas.
“Tenang saja! Gwen bahkan tidak akan tahu dari mana datangnya.”
Di balik pintu kamar itu, dua wanita dengan wajah malaikat sedang menyusun rencana paling kejam dalam hidup mereka.
Dan jauh dari sana, Gwen sama sekali tidak menyadari
bahwa namanya sudah berubah dari ancaman menjadi target.
****
Di balik pintu kamar Lady Selina, seorang pelayan berdiri membeku.
Namanya Arum.
Tangannya gemetar hebat saat nampan berisi teh dan camilan hampir terlepas dari genggamannya. Cairan di dalam cangkir bergetar, nyaris tumpah, seiring jantungnya berdetak keras sampai terasa di telinga.
Setiap kata yang baru saja ia dengar masih bergema jelas di kepalanya.
“Dia harus disingkirkan. Gwen harus mati!!!"
Napas Arum tercekat. Wajahnya memucat.
Ia telah melayani Gwen sejak Gwen masih kecil, menemani dan menyaksikan Gwen menangis diam-diam setelah ibunya meninggal. Bagi Arum, Gwen bukan sekadar majikan. Gwen adalah anak yang ia lindungi dengan sepenuh hatinya.
Dengan susah payah, Arum menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Ia mundur selangkah demi selangkah, berusaha tidak menimbulkan suara. Ketika pintu kamar itu akhirnya tertutup kembali dengan rapat, Arum berbalik dan berjalan cepat menyusuri lorong.
Kakinya terasa lemas.
“Tenang … tenang, Arum,” bisiknya pada diri sendiri.
Begitu sampai di sudut lorong yang sepi, ia menaruh nampan di atas meja kecil. Tangannya bergetar saat merogoh saku dan mengeluarkan ponsel lamanya.
Ia menekan nama yang sudah hafal di luar kepala.
Nada sambung terdengar.
“Angkat Nona, tolong angkat!!!" bisik Arum dengan suara hampir menangis.
Panggilan terhubung.
“Arum?” suara Gwen terdengar dari seberang, terkejut. “Ada apa?"
“Nona!” Arum memotong, suaranya gemetar hebat. “Dengarkan saya baik-baik. Tolong jangan ke mansion ini dulu. Jangan percaya siapa pun!"
Gwen terdiam sejenak. “Arum, tenang dulu. Apa yang terjadi?”
Air mata menggenang di mata Arum.
“Saya … saya tidak sengaja mendengar Lady Selina dan Nona Citra berbicara di kamar mereka.”
Hening di ujung sana.
“Mereka ingin melenyapkan Nona,” lanjut Arum cepat, ketakutan. “Nona Gwen adalah penghalang bagi mereka. Untuk Tuan Nicolas dan harta Tuan besar.”
Suara napas Gwen terdengar berat. “Kau yakin, Arum?”
“Sangat yakin, Nona,” jawab Arum tanpa ragu. “Mereka menyebut jika Nona mati, semuanya akan aman. Mereka bahkan berniat melibatkan Tuan Nicolas.”
Panggilan itu belum terputus ketika Gwen berbicara lagi, suaranya rendah, terkendali, dan penuh perhitungan.
“Arum,” katanya pelan tapi tegas. “Kau tidak boleh pergi!"
Arum terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang.
“Nona?”
“Kau harus tetap di mansion utama.” lanjut Gwen. “Tenang. Bertingkah seperti biasa. Jangan ada yang tahu kau mendengar apa pun."
Tangan Arum mengepal di sisi tubuhnya. Ketakutan menjalar, tapi ia menelannya dalam-dalam.
“Tapi mereka akan melenyapkan Nona.”
“Aku tahu,” potong Gwen. “Dan justru karena itu aku membutuhkanmu di sana.”
Hening beberapa detik. Hanya napas mereka yang terdengar.
“Kau adalah satu-satunya orang yang tidak mereka curigai,” ujar Gwen perlahan. “Pelayan setia yang mereka anggap tak lebih dari bayangan. Tapi bagiku kau adalah mataku.”
Arum menelan ludah. Air mata menggenang, bukan karena takut, melainkan karena tekad.
“Jika itu yang Nona minta, saya akan melakukannya.”
“Jangan melakukan apa pun yang mencurigakan,” pesan Gwen. “Dengar, lihat, dan laporkan padaku. Setiap gerakan mereka. Setiap nama yang mereka sebut.”
“Baik, Nona,” jawab Arum lirih tapi mantap. “Saya bersumpah akan melindungi Nona, meski dengan nyawa saya sendiri.”
“Jangan bicara tentang nyawa,” kata Gwen cepat. “Aku tidak akan kehilanganmu. Kita akan bermain cerdas.”
Panggilan berakhir.
Arum berdiri lama di lorong itu, menarik napas dalam-dalam sebelum kembali mengambil nampan. Tangannya sudah tidak terlalu gemetar sekarang. Ketakutan masih ada, tapi tekadnya jauh lebih besar.
Ia melangkah kembali ke arah kamar Lady Selina.
Ketika pintu terbuka, Selina menoleh dengan senyum anggun.
“Ohh,, Arum. Kau lama sekali!!!"
Arum menunduk hormat, wajahnya tenang, sempurna sebagai pelayan.
“Maaf, Lady. Tehnya hampir dingin.”
Citra meliriknya sekilas cepat, tajam, lalu kembali menatap ponselnya. Tidak ada kecurigaan.
Arum meletakkan cangkir di meja dengan tangan yang kini stabil. Dari balik bulu matanya, ia memperhatikan setiap gerak-gerik, setiap ekspresi, setiap bisikan.
Ia tidak lagi hanya pelayan.
Ia adalah pengintai.
Di tempat lain, Gwen menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Bibirnya melengkung tipis.
“Selina… Citra!” bisiknya dingin.
“Kalian sudah melangkah terlalu jauh.”
Gwen bersandar, pikirannya bekerja cepat. Sekarang ia tidak hanya tahu bahwa mereka akan menyerangnya ia tahu dari mana serangan itu akan datang.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu,
Gwen De Luca bertekad akan mencari cara untuk membalaskan dendamnya.