Gwen duduk di ruang makan mansion Falcone, meja panjang dengan lilin yang menerangi ruangan, seolah tidak ada ketegangan yang mengintai.
Nicolas duduk di seberangnya, wajahnya serius tapi mencoba menampilkan keramahan. Ia menuang anggur merah ke gelasnya, tatapan sesekali menyapu Gwen, seakan menebak apa yang dipikirkan gadis itu.
“Gwen,,” Nicolas memulai, suaranya tenang tapi menyimpan rasa ingin tahu, “kenapa kamu pulang ke mansion papamu?” tanyanya.
Gwen menatap Nicolas dengan dingin, senyum tipis terbentuk di bibirnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tatapannya menusuk. “Darimana kau tahu? Ohh ..., apa gundikmu itu yang memberitahu?” ujar Gwen menyindir.
Seketika, suasana hangat makan malam itu pecah. Nicolas tersentak, tangannya hampir menjatuhkan gelas anggur. Mata Gwen menatapnya, tidak ada keraguan sedikit pun, ia sudah tahu tentang hubungan gelap Nicolas dengan Citra.
Nicolas menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tapi kemarahan dan rasa malu bercampur. “Gwen!!! Itu itu tidak salah! A~aku mencintai Citra! Bukan kau!!!” Suaranya meninggi, mengejutkan para pelayan yang melintas di lorong dekat ruang makan.
Gwen tetap duduk, tenang, seolah sudah menyiapkan diri menghadapi badai. “Kalau begitu jangan berharap,” bisiknya pelan tapi menusuk, “bahwa aku akan membiarkanmu berbahagia begitu saja, Nicolas!!!"
Nicolas menatap Gwen dengan mata dingin. Napasnya berat, tangan mengepal di sisi meja. Suara Nicolas meninggi, menghentakan meja sehingga piring dan gelas bergetar.
“Gwen! Jaga batasanmu!!!” bentaknya, penuh kemarahan yang tersembunyi di balik wajah tenangnya. “Dengar baik-baik! Aku hanya mencintai Citra! Bukan kau!!!”
Gwen menahan napas, matanya menatap Nicolas seperti menunggu amarahnya meledak lebih jauh.
Nicolas mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya menusuk, suaranya kini seram dan kejam.
“Jangan pernah berharap dan Jangan pernah bermimpi bahwa aku akan mencintaimu! Bahkan kalau kau mengemis sekalipun, dan kalau kau memohon dengan air mata, aku tidak akan pernah mencintaimu!”
Gwen menatap Nicolas sejenak, lalu tersenyum sinis, nada suaranya dingin dan menusuk.
“Siapa yang akan mengemis cintamu, Nicolas?” ujarnya, tawa kecil tapi penuh ejekan terlepas dari bibirnya. “Justru aku ingin meminta cerai darimu.”
"A~apa? Cerai?!" tanya Nicolas tak percaya.
"Ya, Cerai!!!"
"Drama apalagi ini, Gwen?!"
Ruangan itu seketika hening. Nicolas menatap Gwen, matanya melebar, bibirnya bergetar, tapi dia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Gwen bangkit dari kursinya perlahan, langkahnya mantap, penuh keyakinan. Setiap gerakannya menegaskan bahwa dia tidak lagi wanita yang bisa disakiti atau diperdaya.
“Kalau kau pikir kata-katamu bisa menakutiku, kau salah besar,” Gwen menambahkan, suaranya dingin tapi terkendali. “Aku bukan anak kecil yang bisa kau permainkan, Nicolas. Dan jangan pernah lupakan itu!!!"
Nicolas terdiam, wajahnya memerah antara marah dan terkejut. Dia baru menyadari Gwen telah berubah, dan kali ini, dia tidak lagi bisa mengontrolnya. Gwen yang dulu penurut kini telah melawannya.
Nicolas menatap Gwen dengan tatapan dingin, suaranya keras dan menusuk setiap kata.
“Kalau begitu dengarkan baik-baik, Gwen,” katanya, nada suaranya dipenuhi kemarahan sekaligus kepastian. “Aku akan segera menceraikanmu dan menikahi Citra. Dia jauh lebih baik darimu!”
Gwen menahan tawa sinis yang ingin meledak. Napasnya tertahan sejenak, matanya tetap membara. Tidak ada kepanikan, tidak ada air mata hanya dingin dan ketegasan.
“Lebih baik dariku?” Gwen mengejek, suaranya rendah tapi menusuk. “Nicolas,, kau tidak sadar, kau baru saja membuat kesalahan terbesarmu.”
Nicolas mengerutkan alis, wajahnya memerah antara marah dan terkejut. Kata-kata Gwen terdengar seperti racun yang menusuk ke telinga dan hatinya, tapi ia menolak menunjukkan keraguannya.
Gwen berdiri, menatap langsung ke matanya. “Aku tidak akan mengemis cintamu, Nicolas. Aku tidak akan menangis atau memohon padamu. Tapi percayalah kau akan menyesal. Dan percayalah, aku tidak akan tinggal diam.”
Ruangan makan malam itu terasa semakin sempit seolah baru menyaksikan benturan dua tekad. Nicolas, yang percaya dunia ada di tangannya, dan Gwen, yang baru saja berubah menjadi badai yang tidak bisa ia kendalikan.
****
Gwen menahan napas sejenak, lalu menoleh ke arah pintu. Tanpa menunggu reaksi Nicolas lebih jauh, ia melangkah pergi, meninggalkan ruang makan dengan langkah tenang tapi penuh dingin. Suasana yang semula sudah tegang kini terasa semakin hening, seakan setiap langkah Gwen menggema di dalam ruangan itu.
Baru beberapa langkah, bunyi ponsel Nicolas memecah keheningan. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku jas, matanya memicing saat melihat layar. Dengan nada tergesa, Nicolas menjawab, “Citra?”
Gwen yang masih berada dekat pintu menahan langkahnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Nama itu, Citra.., menyulut rasa penasaran yang tak tertahankan. Tanpa menimbulkan suara, Gwen mundur perlahan ke balik dinding, meletakkan dirinya dalam bayangan.
Dari sana, ia bisa mendengar percakapan yang mulai terdengar samar tapi cukup jelas untuk membuatnya memperhatikan setiap kata.
Nicolas terdengar tenang, namun nada suaranya tetap menunjukkan urgensi. “Ya, aku mengerti! Dia juga ancaman bagiku. Baiklah, aku akan segera menanganinya.”
Gwen menelan ludah, matanya melebar. Ia tahu sesuatu sedang terjadi, sesuatu yang mungkin mengancamnya, dan Citra lah dalangnya. Perlahan, ia pergi ke kamarnya untuk menyusun rencana.
****
Gwen menutup pintu kamarnya perlahan, mengunci dengan hati-hati. Punggungnya bersandar di daun pintu, dadanya naik turun. Untuk pertama kalinya malam ini, napasnya benar-benar terasa berat.
Ancaman itu nyata.
Dan ia tahu satu hal dengan pasti jika ia tetap berada di mansion ini, ia tidak akan sempat membalas apa pun.
“Aku tidak bodoh,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri. “Aku tidak akan mati sebelum waktunya.”
Gwen melangkah ke arah tempat tidur, duduk sambil menunduk. Otaknya bekerja cepat, menyingkirkan amarah, menyisakan logika.
Nicolas adalah pria berbahaya. Citra lebih berbahaya karena bersembunyi di balik senyum dan kepura-puraan. Jika mereka sudah menganggapnya ancaman, maka satu kesalahan kecil saja bisa menjadi akhir hidupnya.
Ia bangkit dan mulai membuka lemari, bukan mencari pakaian mahal, melainkan pakaian sederhana yang mudah digunakan untuk pergi tanpa menarik perhatian. Tangannya gemetar sesaat saat meraih tas kecil, tapi ia memaksa dirinya tenang.
“Tenang, Gwen ..., berpikir!!!"
Ia tahu mansion Falcone memiliki terlalu banyak mata. Para pelayan setia pada Nicolas. Satpam menjaga setiap sudut. Jalan keluar utama mustahil. Tapi ada satu jalan jalur lama yang jarang digunakan, lorong servis di sisi barat mansion. Lorong itu pernah ia lewati bertahun lalu, saat mansion direnovasi.
Jika lorong itu masih ada.
Gwen meraih ponselnya, membuka catatan lama yang pernah ia simpan diam-diam. Denah kasar mansion. Jarinya menelusuri layar, berhenti pada satu titik.
“Di sini...,” gumamnya.
Pelariannya tidak bisa malam ini. Terlalu berisiko. Nicolas sedang waspada. Maka ia harus berpura-pura tenang, berpura-pura kalah, berpura-pura menunggu perceraian.
Dan saat mereka lengah ia akan menghilang.
Gwen berjalan ke cermin dan menatap bayangannya sendiri. Tidak ada air mata. Tidak ada ketakutan yang ditunjukkan. Hanya tekad.
“Aku akan pergi,” katanya pelan namun tegas. “Aku akan hidup. Dan suatu hari nanti ... aku akan kembali.”
Di luar kamar, langkah kaki terdengar melewati lorong. Gwen segera mematikan lampu, berbaring di tempat tidur seolah sudah tertidur.
Namun di balik kelopak matanya yang terpejam, rencana sudah mulai terbentuk.
Ini bukan akhir.
Ini hanyalah awal pelarian Gwen Falcone seorang wanita yang memilih bertahan hidup, sebelum menuntut balas.