Vanya membuka pintu tepat saat Tuan Alister hendak menekan bel untuk kedua kalinya. Pria tua itu berdiri di sana dengan setelan jas mahal yang kaku, didampingi dua asisten pribadinya. Matanya yang tajam langsung menyapu penampilan Vanya yang masih mengenakan jubah tidur, lalu beralih pada Bumi yang berdiri kokoh di belakang putrinya. "Selamat pagi, Papa. Sejak kapan Papa jadi kurir pengantar surat sampai harus datang jam begini?" sindir Vanya santai, ia menyandarkan bahunya di kusen pintu tanpa niat mempersilakan masuk dengan ramah. Tuan Alister tidak membalas candaan itu. Ia melangkah masuk begitu saja, melewati Vanya dan berhenti di tengah ruang tamu. Matanya tertuju pada sofa yang tampak sedikit berantakan dan piring bekas gulai semalam yang belum sempat dibereskan. "Papa tidak punya

