Jerat 19

2000 Kata
"Aku turuti keinginan tante, kita pergi." kata Sean yang mulai bersiap untuk menjalankan mobilnya komandan ketika mobil itu dijalankan, otomatis sudah dipastikan kalau mobil itu akan terjun ke jurang karena jika salah satu ban mobil itu bergerak sedikit saja, maka mobil itu akan terjun bebas, yang otomatis Devina dan juga Sean akan ikut terjun. Devina yang melihat apa yang akan dilakukan oleh Sean, dengan cepat Devina langsung memeluk lengan Sean, meminta agar Sean tidak melakukan apa Yang memang seharusnya tidak Sean lakukan. "Sean, aku masih ingin hidup, aku masih ingin merasakan surga dunia, Aku ingin merasakan yang namanya kebahagiaan. jangan lakukan itu, karena jika kamu melakukan itu, otomatis kamu menghentikan harapanku untuk mendapatkan kebahagiaan itu." ujar Devina dengan wajah yang terlihat begitu sangat jelas paniknya, rasa takutnya, dan rasa tidak ingin melakukan apa yang ingin Sean lakukan. "gampang saja, kalau Tante berhenti ngambek, berhenti marah, dan redakan dulu emosi tante, dan mau diantar aku pulang, maka aku tidak akan melakukan apapun, aku akan mematuhi apapun yang diinginkan oleh tante. tapi jika Tante masih berusaha untuk menghindariku, lebih baik aku menuruti keinginan tante untuk pergi yang artinya kepergian ini adalah pergi selama-lamanya. " kata Sean yang dengan cepat Devina langsung mengganggukan kepalanya menyetujui apapun yang diinginkan oleh Sean agar Sean tidak melakukan hal yang ia takutkan. Sean langsung tersenyum saat melihat Devina menganggukkan kepalanya, dan Sean kembali mematikan mobilnya, lalu dengan bergerak pelan keluar dari mobil Devina, dan juga ikut membantu Devina untuk keluar juga dari mobil Devina ,tentu saja mereka melakukannya dengan pelan-pelan, bergerak dengan sangat pelan, agar tidak membuat mobil itu bergeser sedikit saja. Devina langsung mengelus dadanya dengan perasaan yang begitu sangat merasa lega, setelah ia keluar dari mobilnya. "sekarang sudah begitu sangat larut, untuk jalan kaki juga tidak mungkin. jadi kita cari penginapan di dekat sini. "kata Sean, mengajak Devina untuk mencari penginapan di sekitar tempat di mana dirinya berada saat ini, karena untuk pulang juga tidak ,mungkin waktunya juga begitu sangat larut. karena Devina masih merasa takut, masih terbayang-bayang kalau dirinya sudah terjun ke jurang itu, dengan cepat Devina langsung mengganggukan kepalanya apapun yang dikatakan oleh Sean, Iya patuhi. Sean menggandeng tangan Devina untuk pergi dari tempat tersebut, dan berjalan sebentar, dan Baru berhenti setelah Sean melihat hotel sederhana. "tante tidak keberatan menginap di hotel sederhana ini? hanya untuk malam ini saja . besok aku akan mengantar Tante pulang." kata Sean, karena Sean takut Devina tidak suka di hotel sederhana tersebut. "tidak masalah, yang penting kita bisa istirahat. " kata Devina dengan nada yang terdengar sangat santai, membuat Sean merasa lega karena Devina tidak pilih-pilih soal tempat. Sean mempersilahkan Devina untuk masuk ke dalam hotel tersebut, dan diikuti oleh dirinya dari belakang, Lalu menyewa satu kamar untuk berdua, yang dengan cepat Devina langsung meralat pesanan Sean, agar Sean memesan dua kamar untuk dirinya dan juga Sean sendiri. "Kenapa harus dua kamar, bukannya tante memang lebih suka kita selalu berdua . aku rasa pilihanku untuk pesan satu kamar itu sudah pas, biar kita bisa berduaan . " kata Sean, yang entah Kenapa mendengar kata-kata tersebut, yang seharusnya Devina merasa senang, justru ia merasa tidak bisa tenang. " jadi Tuan mau ngambil satu kamar atau dua kamar?"tanya resepsionis tersebut karena resepsionis tersebut mendengar kalau Devina meminta Sean untuk memesan dua kamar, sementara yang diterima oleh resepsionis tadi itu Sean memesan satu kamar, jadi resepsionis tersebut butuh kejelasan. mendengar pertanyaan resepsionis tersebut, dengan penuh ketegasan Sean mengatakan kalau ia memesan satu kamar, hingga Devina yang tidak ingin terjadi perdebatan diantara dirinya dan juga Sean di depan resepsionis tersebut ,ia lebih memilih mengalah dan tidak meminta Sean untuk memesan dua kamar ,yang artinya Devina membiarkan Sean untuk memesan satu kamar untuk ditinggali dirinya dengan Sean malam itu. setelah Sean mendapatkan kunci kamar yang akan ia tempati, Sean langsung menggandeng tangan Devina untuk masuk ke dalam kamar hotel tersebut, dan Devina hanya diam saja, karena kalau sampai dirinya menolak sentuhan dari Sean, otomatis nanti akan mengundang perhatian orang lain. " kalau Tante tidak ingin dekat dengan aku, masih merasa jijik untuk dekat dengan aku, tante bisa tidur di kasur, biar aku yang tidur di sofa ." kata Sean setelah mereka sudah ada di kamar hotel tersebut. Devina hanya diam saja, karena sampai saat ini Devina masih belum menerima kata-kata di mana Sean mengatakan kalau Sean tidak pernah menganggap Shela menghianati dirinya, dan Entah kenapa kata-kata itu membuat Devina memperingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu banyak berharap terhadap Sean, yang secara tidak langsung Devina meminta dirinya sendiri untuk tidak melanjutkan niatnya untuk merebut Sean dari Shela. setelah Sean mengucapkan hal tersebut dan tidak mendapat tanggapan apapun dari Devina, Sean langsung merebahkan tubuhnya di sofa, dan menutup kedua matanya dengan salah satu tangannya, mencoba untuk menenangkan dirinya dengan cara beristirahat. Devina menatap Sean sebentar, lalu ikut merebahkan tubuhnya setelah ia mendesah kasar karena Sean juga sudah tidur. Devina langsung terlelap begitu saja, entah apa karena ia merasa kelelahan, atau memang sangat mengantuk, hingga tidak butuh waktu lama ia langsung terlelap. Devina yang sudah cukup lama tidur, Sean bangun dan menoleh ke arah ranjang dimana Devina tidur, dan kalau boleh di tebak, sepertinya Sean sengaja pura-pura tidur sampai Devina benar-benar tidur. setelah memastikan Devina benar-benar terlelap, Sean bangun, dan mendekati Devina dengan langkah yang sangat berhati-hati, mungkin Sean takut mengganggu tidur Devina atau berusaha agar langkah dirinya tidak membangunkan Devina. tangan Sean terangkat untuk menyentuh wajah Devina. Sean mengelus wajah Devina dengan pelan, takut tidur Devina terusik karena ulah dirinya. Sean pun mengecup hangat kening Devina, seperti orang yang sedang memberi kecupan pada orang yang sangat di cintai. entah apa Sean benar mencintai Devina, atau hanya karena Sean merasa bersalah karena telah menyakiti hati Devina, hingga membuat Devina begitu sangat kecewa pada dirinya. " Maaf kalau aku menyakiti hati Tante. maaf kalau aku membuat tante kecewa berat sama aku. Aku tidak tahu keputusan apa yang harus aku ambil, yang jelas aku tidak ada niatan untuk menyakiti hati tante atau lebih berpihak pada Shela. "lirih Sean pelan, merasa sangat bersalah pada Devina setelah apa ya Iya lakukan pemarah pada Devina kemari hati Devina tunggu tanggal luar biasa, bahkan Devina langsung menyerah untuk tidak lagi mengejar dirinya. mendapatkan kenyataan kalau Devina tidak ingin lagi mengejar dirinya, entah kenapa Sean jadi merasa keberatan, merasa tidak terima dan tidak ikhlaskan sampai Devina menyerah untuk mengejar dirinya. meski sebenarnya Sean masih belum ada rasa cinta pada Devina, tapi berada di sisi Devina, Sean Jujur saja merasa nyaman, merasa tenang, merasa damai, dan merasa bahagia. berbedahalnya dengan saat dirinya berada di samping Shela, perasaan yangia rasakan, tidak merasakan hal yang istimewa seperti yang ia rasakan saat bersama Devina. Makanya Sean keberatan saat Devina memilih menyerah, dan secara tidak langsung kalau sampai dirinya mencintai Devina, Devina memilih melepas dirinya. setelah cukup lama Sean mengecup Devina hingga berulang kali, ingin rasanya Sean memeluk Devina, mencoba untuk mencari ketenangan pada Divina. Sayangnya Sean tidak berani. Sean takut mengganggu tidur Devina yang terlihat begitu sangat nyaman hingga dengan terpaksanya Sean kembali menjauh dari Devina, dan duduk di sofa, lalu tatapan Sean terus menatap Devina dengan waktu yang cukup lama. setelah Sean merasa sudah cukup puas memandangi wajah cantik Devina, Sean kembali merebahkan tubuhnya, yang ternyata itulah tujuan Sean Kenapa dirinya tidak tidur sejak tadi, dan hanya pura-pura tidur, Itu karena agar Devina ikut tidur. Sean ingin mencari kedamaian, ketentraman, dan kenyamanan dengan cara mengecup Devina, berdiri di samping Devina, dan memberi kecupan bertubi-tubi pada wajah cantik Devina. keesokan harinya, Sean bangun dari tidurnya, Sean sedikit heran, kenapa ada selimut di tubuhnya. padahal Sean masih ingat dengan jelas kalau dirinya semalam tidur tanpa menggunakan Apapun. tapi pagi ini, saat dirinya bangun, Iya sudah mendapati selimut di tubuhnya, yang Sean yakini pasti Devina yang menyelimuti tubuhnya, dan tentu saja tidur Sean terasa sangat nyaman, mungkin karena selimut tersebut. Sean yakin, Devina yang melakukannya. tanpa Sean sadari bahwa ia telah menerbitkan senyumnya. Devina yang baru saja keluar dari kamar mandi perasa heran melihat Sean senyum sendirian. Sean yang melihat kedatangan Devina, di mana Sean melihat Devina sudah mandi, langsung berdiri dan melempar selimut yang berhasil membuat dirinya tersenyum Itu ke sembarang arah, lalu berdiri dan mendekati Devina dan Devina langsung membawa langkahnya untuk berganti pakaian, namun langkanya berhenti saat Sean memeluk dirinya dari belakang. "Selamat pagi tante cantik! "kata Sean dengan penuh kelembutan, dan terdengar saat romantis di telinga Devina, hingga Devina yang merasa dirinya sangat kecewa dan sedikit benci pada Sean, langsung luluh seketika saat mendengar ucapan selamat pagi penuh kelembutan dari Sean. "menjauhlah. kamu tahu Aku begitu sangat mencintaimu, dan bersikap manis seperti ini saja sudah membuat aku luluh. "kata Devina sambil berusaha untuk melepaskan tangan Sean yang melingkar di perut ratanya . "memang itulah tujuan ku Tante. Aku memang ingin tante cepat luluh, dan bersikap seperti biasanya. jangan berhenti, teruslah mengejarku, berharaplah terus untuk mendapatkan cintaku, karena aku sudah berusaha untuk mencintai tante. "ujar Sean yang membuat Devina langsung tersenyum, dan Entah kenapa setiap kata-kata yang keluar dari Sean sejak tadi, Berhasil Menghapus Rasa kecewanya, menghapus terasa bencinya, dan berganti kembali rasa cintanya pada Sean. ternyata jika Devina sudah mencintai seseorang, hanya dengan satu atau dua kalimat yang begitu sangat manis, sudah membuat Devina melupakan rasa kecewanya terhadap orang tersebut. Devina melepaskan kedua tangan Sean yang masih melingkar di perut ratanya, lalu membalikan badannya menghadap pada Sean dan membalas pelukan Sean dengan cara melingkarkan kedua tangannya padan leher Sean, dan menatap Sean dengan tatapan yang terlihat begitu sangat menginginkan Sean. "aku sangat mencintaimu dan aku sangat senang jika kamu ingin berusaha mencintaiku juga. tapi jika kamu juga ingin berusaha untuk mencintai Sella, aku juga tidak bisa melanjutkannya, karena aku butuh kepastian seorang diri, dan butuh pengakuan pasti kalau aku wanita yang jadi satu-satunya harapan dalam hidup kamu, tanpa harus melibatkan wanita lain termasuk Shela. memang Terdengar sangat egois kalau aku menginginkan kamu seseorang diri. tapi memang itulah keinginanku saat menginginkan kamu, dan aku ingin kamu hanya menjadi milikku seutuhnya, tanpa harus melibatkan wanita lain dalam hidupmu." ujar Devina panjang lebar, dan Sean yang mendengar kalimat yang begitu sangat panjang dari Devina, tersenyum lalu menganggukan kepalanya, hingga Devina langsung mendaratkan kecupan termanisnya dan terhangatnya pada bibir Sean, membuat Sean tersenyum. Sean membalas kecupan singkat dari Devina, lalu Sean kembali menatap wajah Devina dengan tatapannya begitu sangat mendalam. "selama ini aku tidak pernah mencintai Shella, seperti yang sudah tante ketahui, kalau aku mempertahankan Shella, itu karena Shela begitu sangat mencintaiku. dan setelah aku merasa kalau aku sudah begitu sangat mencintai tante ,merasa yakin akan keputusanku memilih tante, maka aku akan mengakhiri hubunganku dengan Shela. tapi sebelum aku mencintai tante dan sebelum aku merasa yakin pada tante, Aku harap tante tidak perlu mendesak aku agar aku mengakhiri hubunganku dengan Shela, karena sebenarnya tanpa tante minta pun, aku pasti akan mengakhirinya jika aku sudah merasa yakin pada tante. dalam hidupku aku hanya ingin punya satu wanita dan aku tidak bisa memilih sekarang wanita yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya, antara tante dan juga Shela. bisa Jadi kalau aku merasa yakin pada Shela, aku pasti akan mengakhiri hubungan kita . "kata Sean panjang lebar, mencoba untuk memberi pengertian pada Devina, dan Devina pun ya mengerti maksud dari kalimat panjang Sean, dan Devina menganggukkan kepalanya karena Devina merasa yakin kalau Sean bisa mencintai dirinya. "Aku Siap kapanpun menunggu kamu untuk memberi kepastian terhadap hubungan kita . yang jelas aku merasa yakin kalau kamu bisa mencintaimu. Apakah kamu tidak pernah tergoda dengan tubuhku tidak pernah tergoda dengan sentuhanku sampai kamu merasa kesulitan untuk mencintaiku juga? kalau memang kamu mudah menerima sentuhan dariku, aku yakin kamu pasti bisa mencintaiku dalam waktu dekat ini ."kata Devina yang entah Kenapa Devina jadi ingin tahu apakah Sean bisa tergoda terhadap dirinya. "dari tubuh tante yang begitu sangat seksi, memiliki gunung kembar yang sangat besar, serta memiliki wajah yang teramat begitu sangat cantik, Apa itu sangat sulit membuatku tergoda? "kata Sean yang membuat Devina langsung membuka kancing kemeja Sean, bahkan sampai membuka ikat pinggang Sean, membuat Sean terkejut. " aku ingin memastikan kalau kamu bisa tergoda dan mudah mencintaiku. "kata Devina seraya membuka resleting celana Sean.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN