"Dialah pria ku, pria yang akan memberiku kesenangan , memberiku kepastian dan memberiku kenyamanan. "jawab Devina Seraya menonjol pada seseorang, dan sehat langsung mengikuti arah yang ditunjuk oleh Devina yang ternyata pria yang ditunjuk oleh Devina itu adalah Pria tua yang teramat begitu sangat tua yang kelihatannya pria tua itu seperti sedang mencari seseorang . dengan cepat Sean langsung menurunkan tangan Devina yang sejak tadi menunjuk ke arah seorang pria tua itu lalu mendesah kasar . menurut Sean tidak mungkin juga kalau Devina memilih Pria tua yang teramat begitu sangat tua, bahkan untuk berdiri saja sungguh tidak mampu, apalagi berjalan normal dengan penuh kewibawaannya, itu sudah sangat tidak mampu, bahkan untuk dipanggil seorang kakek saja rasanya masih sangat muda, pria yang ditunjuk oleh Devina kali ini benar-benar sangat tua yang seperti kesulitan untuk berjalan karena seperti orang yang tidak mampu untuk berjalan normal.
Sean langsung menyentuh tangan Devina, lalu menggendong tubuh Devina, membawa Devina keluar dari club malam tersebut, karena Sean tahu kalau Devina sekarang sudah mabuk, hingga tidak sadar kalau dirinya menunjuk pria tua untuk dijadikan sebagai pelampiasan kekecewaannya terhadap dirinya.
Devina yang masih setengah sadar, masakan dirinya digendong, berusaha untuk melepaskan diri dari Sean, namun Sean tetap menahan Devina agar tidak turun dari gendongannya. karena Devina merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari Sean, Devina langsung menggigit pundak Sean, hingga Sean dengan refleksnya melepaskan Devina Karena ia merasa sakit di pundaknya.
setelah Devina berhasil melepaskan diri dari Sean, Devina langsung membawa jalan sempoyongnya keluar dari club malam tersebut tanpa mempedulikan Sean yang terus memanggilnya sejak tadi, ternyata Devina memakai pakaian terbuka dan sangat terbuka itu karena Devina pergi ke club malam.
Sean yang melihat Devina masuk ke dalam mobilnya dan sepertinya ingin membawa mobilnya sendiri, Sean langsung berlari mendekati mobil Devina, dan mengetuk kaca pintu mobil Devina dari samping Devina, meminta Devina agar tidak membawa mobilnya sendiri karena khawatir akan ada bahaya yang terjadi jika Devina membawa mobil sendiri.
"tante aku mohon buka pintunya, karena tante saat ini tidak sadar sepenuhnya buka pintunya tante, keluar! biar aku yang mengantar tante pulang." kata Sean sambil terus mengetuk kaca pintu mobil Devina, namun Devina tidak memperdulikannya dan langsung menancap pedal gas mobilnya untuk segera meninggalkan tempat keramaian yang sempat membuat dirinya sedikit merasa gembira atau merasa bebannya terlepas sebentar saja di tempat tersebut.
"Tante!! " teriak Sean dengan begitu kerasnya saat melihat mobil Devina langsung melaju dengan begitu kencangnya, hingga meninggalkan banyak asap, dan itu membuat Sean langsung terbatuk.
Dengan terburu-buru Sean langsung beralih menuju ke mobilnya sendiri, langsung mengejar mobil Devina, karena Sean tidak ingin terjadi sesuatu pada Devina. beruntungnya Sean masih melihat jejak mobil Devina. Sean langsung Melajukan mobilnya dengan begitu kencannya untuk mengejar Devina, dan terjadilah kejar-kejaran mobil di tengah malam.
Devina yang masih setengah sadar, langsung mendengus kesak saat melihat mobil sedan mengejar mobilnya Devina tetap tidak menyerah tetap berusaha menghindar dari saya informasi hingga sehat yang melihat Devina seperti berusaha untuk tetap menjauhi dirinya, langsung menambah kecepatannya, dan mencoba untuk menghentikan mobil Devina.
Sean yang mendapatkan peluang untuk menghadang mobil Davina, langsung menambah kecepatan mobilnya, dan menghentikan mobilnya secara tiba-tiba di depan mobil Devina, hingga Devina yang tidak punya kesempatan untuk mengerem mobilnya, mobilnya menabrak mobil Sean, hingga tubuh Sean ikut terguncang saat mobilnya terguncang karena tabrakan dari mobil Devina.
Sean tidak marah mobilnya hancur karena di tabrak Devina, yang terpenting ia berhasil mencegah mobil Devina.
setelau nafas Sean sudah kembali normal, Sean turun dari mobilnya, dan mendekati mobil Devina.
Sean mengetuk mobil Devina, dan Devina menurunkan kaca pintu mobilnya.
"singkirkan mobilmu dari jakanku. jangan menghalangi jalanku! " teriak Devina dengan emosi yang tak terkontrol. tanpa menghiraukan ucapan Devina, Sean langsung masuk ke dalam mobil Devina melalui celah kaca pintu mobil Devina, hingga Devina terpaksa berpindah duduk di samping kemudi karena ada kaki Sean.
"mau apa kamu? " tanya Devina dengan emosi yang masih meledak-ledak.
"tante tau bahaya kan. membawa mobil dengan ugal-ugalan dapat mengancam nyawa tante. " ujar Sean sambil menatap Devina dengan tatapan dinginnya, dan Devina Ayah diam saja tidak menanggapi ucapan sehat yang penuh perhatian terhadap keselamatannya.
" aku tahu tante marah dan kecewa sama aku , tapi untuk melampiaskan kemarahan tante atau kekecewaan tante terhadap ku, tante tidak harus melakukan hal yang mengancam nyawa Tante . Semarah apa aku Tante, Tante bisa melampiaskannya dengan cara lain tanpa harus membahayakan diri sendiri . kalau Tante berhasil membahayakan dirinya sendiri, yang rugi itu kan tante sendiri. "ujar Sean dengan penuh bijaknya, dan Devina yang mendengar ucapan Sean langsung menoleh pada Sean, dan melirik pada Sean dengan lirikan yang begitu sangat tajam, dan sayang tidak merasa takut dengan tatapan atau lirikan dari Tante Devina.
kali ini Sean benar-benar banyak bicara, dan itu Karena Sean terlalu mengkhawatirkan tante Devina, karena memang selama ini prinsip Sean benar-benar sangat mengutamakan orang yang mencintai dirinya daripada dirinya yang mencintai orang tersebut. tak ingin menanggapi ucapan Sean yang begitu membuat dirinya gundah, antara ingin lulu dengan kata-kata penuh perhatian Sean dan perasaan kecewanya terhadap Sean, hingga Devina memilih langsung keluar dari mobilnya karena tidak ingin luluh pada perhatian Sean . Melihat Devina yang ingin keluar, dengan cepat Sean langsung menahan tangan Devina, hingga Devina kembali duduk di sampingnya.
" Tante mau ke mana? "tanya Sean karena Devina tiba-tiba mau pergi tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu ke mana Devina akan pergi .
" tidak perlu tahu aku mau ke mana, yang jelas aku tidak akan mendekatimu lagi. "ujar Devina yang sudah sadar sepenuhnya dari mabuknya, karena saat Devina ada di klub malam, Iya sempat mabuk, namun masih setengah sadar.
mendengar ucapan Devina yang terdengar mulai menyerah untuk mendapatkan Sean, Sean langsung menahan Devina agar tidak pergi.
"aku tahu sekarang Tante masih sangat emosi, masih sangat kecewa sama aku . Aku mohon tolong kendalikan diri tante dan coba redakan dulu emosi tante, biar bisa mengambil dengan baik-baik tentang keputusan Tante. aku tahu tante sangat marah sama aku, jadi aku tidak mau Tante mengambil keputusan di saat tante marah ." ujar Sean meminta agar Devina tidak meninggalkan dirinya karena saat ini kondisi Devina tidak stabil, selain karena Sean khawatirkan kondisi Devina, Sean juga tidak ingin Devina meninggalkan dirinya, meski tidak dipungkiri dirinya cukup egois, tapi Sean tidak bisa melepaskan Shela, namun tidak ingin Devina meninggalkan dirinya.
" emosiku stabil, dan aku tidak sedang marah ataupun kecewa terhadap siapapun, apalagi sama kamu. Aku ingin mengakhiri semua tujuanku bukan karena aku marah sama kamu, tapi aku memang merasa agar aku tidak menjalin kehidupan yang sia-sia menunggu seseorang yang tidak pernah mengharapkan aku apalagi berharap membalas cintaku . "ujar Devina dan Sean hanya mendengarnya sungguh merasa perih juga, karena secara tidak langsung Devina telah mengungkapkan perasaan kecewanya karena cinta hanya bertepuk sebelah tangan . mendengar ucapan Devina, Sean mencoba untuk memeluk Devina, tapi Devina menolak, dan meminta Sean untuk pergi.
" Pergilah, dan aku rasa kita juga sudah tidak punya urusan lagi . kalau memang kamu tidak bisa pergi, dan tetap ingin di sini, keluar dari mobilku, biar aku yang pergi . "ujar Devina dengan penuh ketegasan, dan Terdengar sangat jelas kalau Devina sudah tidak menginginkan Sean lagi, membuat hati Sean merasa sedikit nyeri, karena wanita yang sempat begitu sangat menginginkan dirinya aku mau mengharapkan dirinya, sekarang dengan penuh ketegasan Wanita itu sudah tidak mengharapkan dirinya lagi, bahkan dengan terang-terangan ia mengatakan kalau wanita itu tidak akan mengganggu dirinya lagi, Yang artinya wanita itu benar-benar akan pergi jauh dari dirinya.
Aku akan pergi, tapi aku tidak akan pergi sendirian . kondisi tante tidak baik-baik saja , kita pergi bersama, Biar aku antar tante pulang . "kata Sean yang langsung mendapatkan gelengan kepalanya keras dari Devina, Sean tidak bisa pergi , apalagi meminta dirinya untuk keluar dari mobilnya, Sean berat untuk mengikuti keinginan Devina.
" Emangnya kamu siapa? tidak perlu merasa kamu orang terpenting dalam hidupku , apalagi kamu menganggap aku nomor satu orang paling berharga di hatimu. jadi kamu tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini. "ujar Devina tegas, dan entah Kenapa mendengar ucapan Devina Sean sedikit merasa sakit hati, tapi Sean tidak mau menunjukkan rasa sakit hatinya pada Devina .
" siapapun aku bagi tante dan siapapun tante bagi ,aku aku tidak peduli. yang jelas, aku tidak mau terjadi sesuatu pada tante. " kata Sean yang buat Devina langsung tertawa renyah.
" Sudahlah. tidak perlu bersikap seolah-olah kamu mengkhawatirkan Aku menyayangi aku lagi sedang berusaha menunjukkan rasa pedulimu padaku. rasa pedulimu, rasa cintamu dan rasa ketakutan kamu, itu hanya Sheila . di sini cuma ada Shella . "ujar Devina Seraya menunjuk d**a Sean menggunakan hari telunjuknya, seolah-olah mengatakan kalau dirinya tidak ada artinya bagi Sean, karena orang yang berarti dalam Sean itu hanyalah Sheila.
" tante juga punya tempat yang khusus di hati aku. jadi Jangan menganggap kalau wanita yang ada di hatiku satu-satunya itu hanya Sheila. vbisa saja aku mengakhiri hubunganku dengan Sheila, tapi aku juga tidak tahu kapan itu terjadi. jadi tante maupun Sheila, kalian punya tempat masing-masing di hati aku . "ujar Sean dan lagi-lagi Devina mengeluarkan tawa renyahnya.
" jadi di hati kamu ada banyak ruangan? seandainya ada wanita lain yang mencintaimu, kamu juga akan memberi ruangan juga pada wanita itu, sama seperti aku dengan Shela? begitu? " tanya Devina setelah ia melepaskan tawanya.
"tidak begitu maksudnya tante. aku menempatkan tante di hatiku karena aku mengikuti kata hatiku. " kata Sean mencob untuk memperbaiki kata-katanya, mencoba meluruskan semuanya agar Devina tidak salah paham.
" sudahlah. aku rasa urusan kita sudah selesai , Sekarang kamu keluar dari mobilku, aku akan pergi. "kata Devina dengan penuh ketegasan, membuka pintu mobil yang ada di samping Sean, meminta agar Sean keluar dari mobilnya, karena Devina benar-benar sudah memutuskan untuk tidak lagi mengejar Sean, karena Devina menganggap Jika ia tetap melanjutkan niatnya untuk mengejar Sean, menginginkan Sean dan ingin membuat Sean menjadi miliknya satu-satunya, itu hanya sia-sia saja.
Sean yang memang tidak ingin mengikuti keinginan Devina agar dirinya pergi langsung menutup pintu mobil Devina yang ada di sampingnya secara kasar hingga menimbulkan suara yang begitu sangat nyaring, lalu tanpa mengucapkan apapun pada Devina, Sean menyalahkan mobil Devina, dan langsung menginjak pedal gas mobil Devina, melajukan mobil Devina dengan kecepatan begitu tinggi, meninggalkan mobilnya yang sedikit rusak.
"Sean, hentikan mobilnya. keluar dari mobilku, atau aku yang akan keluar! kalau kamu tidak menghentikan mobilnya, aku akan loncat! " teriak Devina penuh ancaman mengancam Sean agar Sean menghentikan Mobilenya. namun sayang, Sean tetap melajukan mobilnya, tidak mendengarkan kata-kata Devina, sudah seperti orang yang benar-benar tuli sehingga siapapun yang bicara, sehat seolah-olah tidak mendengarnya.
karena Devina benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya, Devina langsung berusaha untuk merebut setir mobilnya, hingga terjadilah rebutan setir mobil di dalam satu mobil itu, sehingga mobil oleng karena ulah mereka sendiri.
"tante, lepas. bahaya! " teriak Sean yang masih tidak menyerah melepaskan stir mobil tersebut, meminta agar Devina diam dan duduk dengan nyaman.
Devina tetap tidak mau ngalah. Devina terus berusaha merebut stir mobilnya, hingga Sean kesulitan untuk tetap menjaga keseimbangan jalan mobilnya, hingga mobil berjalan keluar dari jalan raya, dan..
Bruk
Mobil menabrak pohon besar, dan karena pohon besar itu juga berdekatan dengan jurang, mobil yang dibawa Sean sedikit lagi bergerak, maka mobil tersebut akan terjun bebas ke jurang.
"Kalau tante menyuruh aku pergi, lebih baik kita pergi bersama. dan yang di maksud itu bukan pergi untuk pulang ke rumah, tapi lihat ke samping. kita bisa pergi bersama. " ujar Sean meminta Devina untuk melihat ke samping Devina yang terlihat sangat jelas jurang itu sunggu menakutkan. Sean langsung menyentuh stir mobil untuk kembali menyalakan mobilnya, yang otomatis jika mobil itu di nyalakan, maka mpbil itu akan terjun ke jurang menakutkan itu.
"Aku turuti keinginan tante, kita pergi....