Iqbal datang ke kampus membawa makan siang hasil masakan sendiri untuk istrinya. Dia menunggu di meja di sekitar kantin kampus. Di sana dia hanya membeli minuman. Pria itu ingin memanjakan lidah sang istri dengan masakannya. "Sayang, aku tunggu di kantin, ya!" Iqbal menghubungi Safina lewat ponsel. Dia tahu istrinya sudah selesai kelas dan pria itu menunggunya di kantin kampus. "Iya, Pak. Tunggu sepuluh menit, eh, lima menit aja deh. Jangan ke mana-mana, ya!" "Iya. Aku akan menunggumu Sayang sampai kapan pun." Tiba-tiba Safina diam agak lama. Lalu suaranya terdengar lagi. "Pak, Bapak enggak lagi demam, kan?" Suara Safina terdengar serius. "Enggak, emang kenapa, Sayang?" "Tumben ngegombal? Ternyata Bapak bisa juga ngegombal, ya? Siapa yang ngajarin?" Iqbal mengerutkan dahi. Dia