Safina memutar bola mata lalu berdecak kesal. Sudah saatnya dia mengakhiri obrolan dengan Vania yang semakin lama semakin aneh saja untuk didengar. "Gini ya, Mbak Vania, mau Mbak tidur sama Pak Iqbal, mau jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri sama dia terus tidur sekamar, aku enggak peduli. Itu semua cuma masa lalu. Kalau Mbak ada niatan mau menghancurkan rumah tangga aku dengan Pak Iqbal. Percuma, anda salah orang!" Safina bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Vania yang sedang mengacak-acak rambutnya karena sudah gagal memprovokasi Safina. Perempuan itu marah pada Iqbal dan Safina karena mereka tidak bisa dipisahkan dengan mudah. "Harus ngapain lagi ini?" Vania memutar otak untuk memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk merebut Iqbal dari Safina. Setelah meninggalkan V