“Betah amat, Dok,” tegur Susi yang baru kembali dari pantry sambil menggenggam tumbler-nya. “Duduk kenapa sih, jangan tiba-tiba jadi arca gitu.” Aku menyatukan kedua telapak tangan di depan d**a. “Namaste,” sahutku. Susi terkekeh sambil berlalu. Aku bersandar lagi ke dinding koridor klinik, tepat di depan ruang praktik Dokter Ratih. Pintu masih tertutup. Sudah hampir dua puluh menit. Aku melirik jam lagi, entah untuk yang keberapa kali. Lalu kembali menatap pintu. Konyol memang, kenapa juga aku yang gugup? Lalu.... Akhirnya pintu terbuka. Amanda melangkah keluar, diikuti Dokter Ratih. Aku langsung menegakkan tubuh. “Eh, ada yang nungguin,” ujar Dokter Ratih sambil tersenyum, menatapku sekilas. Amanda memberengut. “Kerjaannya kurang kayaknya, Dok.” “Heran saya juga, tumben bang

