“Ih!” Si kecil mengeram. Ber-ih ria sembari mengenyahkan telapak tangan sang papa yang selalu saja bergerak menutupi kedua matanya. “Papa!” bentaknya, mulai kesal sendiri. Gara-Gara papanya, ia jadi tak bisa menonton kartun kesayangannya. “Hem..” Tidak suka dengan jawaban papanya, Xavier— Sapi paling menggemaskan se-galaksi itu mendongak. Tontonan lain yang terjadi pada matanya membuat dirinya semakin tak suka dengan sang papa. “Angan ium-ium ibil Mama!” Pantas saja matanya ditutup. Rupanya papanya yang licik itu sedang melahap ‘hap,’ bibir mama kesayangannya. Tentu saja Xavier memprotesnya. Ia berusaha bangun dari pangkuan Niel, melayangkan tabokan maut yang berasal dari telapak tangan mungilnya. Plak! “Kakal!” Amuk bocah itu dengan matanya yang dimelototkan. Grrr! Dosa apa ia sam

