Tangisku semakin menjadi dan Andri terus mendekapku, walau aku tahu dia benar-benar kebingungan dengan sikapku yang mungkin saja menurutnya tidak jelas dan tidak mengerti. Berkali-kali aku mengatakan perasaan cintaku padanya, padahal tadi aku telah berkata yang sebaliknya. “Fa, jujurlah dengan hatimu, katakan apa yang sedang membebanimu. Aku rela meninggalkanmu jika itu yang kamu kehendaki dan kamu benar-benar tidak mencintaiku.” Aku tahu dia menyindir ketidak-konsekwenan ucapanku. Setelah beberapa lama aku menangis dalam dekapannya, serta isi daadaku mulai sedikit terasa lega, aku sedikit melepaskan diri dari pelukannya dengan mengangkat wajahku yang entah bagaimana bentuk rupanya. “Ndri, aku sudah tua, usiaku sangat beresiko untuk mengandung lagi. Aku sendiri tidak tahu apakah aku ak